• Imagen 1 Resensi Negeri 5 Menara
    Tidaklah sulit mengenali sebuah novel berkualitas. Sebuah logo pada sampul depan bertuliskan BEST SELLER dan berbagai opini positif dari para tokoh terkenal

Jatuh Cintanya Sudah, Mengatakannya Saja yang Tidak Pernah


Aku mencintaimu sejak rambutmu masih berkepang dua. Sampai sekarang. Ketika rambutmu sudah tertutup kain yang tentu saja semakin membuatmu terlihat lebih anggun dan jelita.

Entah mengapa aku tak pernah bisa mengatakannya? Bukan. Bukan karena takut akan semua resikonya. Bukan karena takut membayangkan 'sudah susah payah merangkai kata-kata dan gemetar mengucapkannya' lalu kamu hanya akan menimpalinya, "Maaf aku tidak bisa" atau "Maaf, aku mencintai pria lain". Bukan itu. Hanya saja setiap kali ingin mulai mengatakannya, ada keraguan yang pelan-pelan menyelinap. Pelan memang, tetapi cukup untuk membuatku urung mengatakannya. Dan keraguan itu bukan terletak pada perasaannya. Bukan pada apakah aku benar-benar mencintaimu atau tidak. Tapi keraguan itu ada pada diriku sendiri. Tentang kepantasan menemanimu sepanjang usia. Menemanimu bercerita dan aku mendengarkannya setiap hari lalu kita menciptakan tawa di sana . Tentang kepantasanku kalau besok lusa kita menikah, apakah aku akan menjadi imam yang baik atau tidak. Dan yang paling penting adalah, apakah aku pantas untuk memperoleh balasan cinta yang sama?

Memaafkan tetapi tidak untuk melupakan

Aku tidak pernah dan tidak akan membencimu. Tetapi, bukan berati akan melupakan semuanya. Tentang luka yang kamu titipkan kepadaku. Tentang keegoisanmu di masa lalu, juga tentang perasaan tulus yang kamu balas dengan pengkhianatan. Semuanya.

Aku akan menyimpannya. Semuanya. Untuk menjadi pelajaran bahwa besok lusa aku tak boleh mengalaminya lagi. Juga untuk menjadi penanda, bahwa jika memang harus jatuh cinta lagi, maka kupastikan harus jatuh di tempat yang semestinya. Bukan di hati yang sama pada orang yang sama lagi.

Pamit

Aku Pamit…

Kamu pernah ada di berjuta-juta gigabyte memori dalam otakku. Kamu pernah riuh kusebutkan dalam doa. Pernah juga kurapalkan namamu dalam tiap desah dan cuaca. Aku Pamit untuk tidak lagi melakukan rutinitas ini.

Aku pernah mencungkil perhatianmu dengan berusaha membuatmu tertarik. Untuk memberi isyarat, “Hei, lihatlah kesini. Ada aku yang memperhatikanmu. Mengagumimu sekian lama, puluhan musim. Kali ini aku pamit untuk tidak lagi melakukannya.

Ini Tentang Kita, Bukan Tentang Apa yang Mereka Katakan

Dua orang yang saling mencintai tetaplah dua orang yang memiliki kehidupan masing-masing. Sebagaimana aku dengan kesibukanku, dan kamu dengan kesibukanmu. Sebagaimana kamu memiliki sahabat dekat, dan aku memiliki kawan dekat. Kita bisa menjalani kehidupan berbeda kita, meski kita sama-sama jatuh cinta. Namun di sini, ketika hanya ada aku dan kamu, maka ini menjadi tentang kita saja.      

Aku senang, ketika kamu menghabiskan libur akhir pekan dengan berjalan-jalan seharian dengan sahabatmu. Tertawalah bersamanya, nikmati setiap momen persahabatan kalian yang berkesan. Bahkan ketika kamu harus curhat sepanjang malam dengan sahabatmu, lagi-lagi aku tidak keberatan. Sesama perempuan memang harus saling berbagi cerita. Aku tidak mengatakan itu sama dengan Bergosip. Kadang, bagi sebagian perempuan, cara yang baik mengaktualisasi diri adalah dengan saling curhat. Benar tidak?  

Lalu apakah kamu tidak keberatan kalau aku menghabiskan satu-dua malam dengan nongkrong bersama teman-teman? Kamu jangan khawatir, paling aku hanya menonton pertandingan sepak bola, lalu menghabiskan beberapa gelas kopi, kacang dan juga gorengan. Atau kami hanya akan duduk melingkar sambil main kartu atau berdiskusi tentang siapa yang paling pantas jadi Gubernur tahun depan. Kadang kami juga ngobrol santai membahas apa saja hingga kami tertawa, menertawakan diri sendiri. Itu yang kulakukan bersama teman-teman. Tetapi kalau waktunya tiba, saat rindumu memanggilku. Aku di sini, meninggalkan semua hiruk-pikuk itu untuk menujumu. Jadi, sesibuk-sibuknya, aku akan tetap mengutamakanmu. Karena ini bukan persoalan mana yang lebih penting antara kamu dengan mereka. Tetapi ini tentang kita. Kalau bicaranya sudah 'Tentang Kita', maka itu sama artinya dengan bicara tentang masa depan. Dan aku rela meninggalkan semua sibukku hanya untuk menukarnya dengan ribuan detik berharga bersamamu.

Maafkan Aku yang Dulu, Nay!

‘Di balik Pria sukses selalu ada wanita hebat di belakangnya’, kalimat itu benar sekali, Nay. Lihatlah, meski belum  benar-benar menjadi sukses, setidaknya aku mengerti  dan benar-benar memahami sekarang bahwa quote itu bukan omong kosong belaka.

Kamu adalah orang yang paling cerewet di masa-masa kuliah dulu. Aku ingat, kamu berseru sebal setiap kali aku mengabaikan tugas akhirku. Kamu adalah orang yang paling sering mengingatkan setiap hari, mengomeliku kalau aku malas menemui dosen pembimbing, atau bosan berkutat dengan laptop, buku-buku dan penelitian. Katamu, “mau kapan selesainya coba, kalau kamu malasan-malasan begini ngerjain skripsinya, hah?”.  Aku mengerti, Nay, kalau omelanmu itu akan berefek baik bagi kecepatan mengerjakan skripsiku. Dan ajaib, Nay, aku bisa menyelesaikan tugas akhirku yang menyebalkan itu seperti yang kamu harapkan. Sudah skripsinya menyebalkan, caramu menyemangatiku juga menyebalkan. Namun oleh sebab itu aku bisa lebih giat akhirnya.

Setelah aku lulus, apakah kamu berhenti menghardikku?, ah maksudku, berhenti mengomeliku? Tidak. Aku tahu bahwa tugasku sebagai laki-laki belum selesai. Kehormatan bagi laki-laki yang baru lulus tentu saja mendapatkan pekerjaan sesegera mungkin. Aku ingat, entah serius atau bercanda kamu pernah berujar, “bagaimana bisa menikahiku kalau kamu masih pengangguran? Menikah itu mahal, Bang, ada listrik yang harus dibayar, ada susu dan popok yang harus dibeli, dan tentu saja, keperluan kosmetikku menjadi tanggungjawabmu”. Dan aku mendengus sebal demi menerima kalimat darimu. Tetapi kamu benar, Nay, untuk membangun keluarga, aku harus bekerja lebih keras agar besok lusa kita bukan saja hanya memiliki keluarga sakinah, tetapi juga bermartabat.

Suatu Hari Nanti

Suatu hari nanti...
Mungkin akan ada seseorang yang akan dengan senang hati berjalan bersisian denganku. Menggenggam tanganku, menyejajari langkahku sambil berkata, "aku akan menemanimu kemana saja, my man. Tentu saja"

Suatu hari nanti....
Mungkin akan ada seseorang yang mau kurepotkan berkali-kali. Akan selalu ada untuk membereskan meja kerjaku. Akan selalu tersedia untuk membuatkan secangkir kopi hangat, bahkan menyiapkan air panas untuk kupakai mandi. Dan dia melakukannya dengan penuh cinta.

Suatu hari nanti....
Mungkin akan ada seseorang yang tiba-tiba memelukku dari belakang sambil mengagetkanku. Menyebalkan, tetapi menjadi sangat menyenangkan kalau dia yang melakukan.

Aku Ingin Menjalani Cinta yang Sederhana

Aku ingin menjalani cinta yang sederhana, semisal mengajakmu duduk di sekitar angkringan jalan malioboro, sembari mendengar alunan musik panggung jalanan. Bersama menyeruput kopi joss atau menikmati hangatnya susu jahe di tengah hingar-bingar dan riuhnya kota jogja.

Aku ingin menjalani cinta yang sederhana. Cukup dengan kamu mendengar aku bercerita, lalu tertawa. Atau giliran aku yang mendengarmu bercerita, dan lagi-lagi tertawa.. Walau lagi-lagi di antara percakapan-percakapan menyenangkan kita, hanya ada sego kucing dan wedang uwuh kesukaanmu. Tidak apa-apa. Karena percuma jika di restoran mewah bukan? Kalau di sini ternyata kamu, aku, kita, lebih menikmati setiap sepermili detik momen-momen kebersamaannya.

Untuk Seseorang yang Tak Bisa Kubahagiakan

Halo, kamu.. Aku tak bermaksud menanyakan kabarmu, karena aku tahu kabarmu sudah jauh lebih baik sekarang. Benar, kan? Tentu saja. Karena jika tujuanmu pergi dariku agar kamu lebih bahagia, seharusnya kamu sudah bahagia sekarang. Ya, aku sudah melepaskanmu sekarang, bahkan sebelum benar-benar melepaskan, aku tidak benar-benar mengikatmu, bukan? Agar sewaktu-waktu kamu meminta pergi, kamu bisa pergi dengan mudah.

Entah kenapa setelah kamu akhirnya pergi, aku bertambah lega sekarang. Jangan dulu salah paham, aku bahagia bersamamu sesungguhnya. Paling tidak, aku tak pernah merasa kesepian karena kamu bisa menyapaku kapan saja. Kalau aku ingin ngobrol, kalau aku kerepotan, termasuk juga kalau aku butuh diperhatikan, setidaknya kamu ada. Bahkan bisa dibilang, kamu selalu ada. Yang membuatku lega adalah kamu bisa mengejar bahagiamu sekarang. Mencari bahagia yang tidak kamu dapat dariku. Kamu harus menemukan bahagiamu, Harus! Seperti aku yang telah menemukan bahagiaku. Ya, aku sudah menemukannya. Kamu tahu sejak kapan? Tepatnya saat kamu memutuskan untuk mencintaiku pertama kali. Kemudian berlanjut sampai kamu bersedia menemaniku, menghabiskan banyak waktu bersamaku, hingga melakukan apa saja bersamaku. Itu adalah bahagiaku. Kalau kamu? Entahlah.

Tak Bisakah Kita Bertahan Dulu?

Aku suka menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku. Buku apa saja, entah novel yang sering kamu hadiahkan untukku. Atau buku politik, hukum, sastra yang merupakan koleksi pribadiku. Lalu kita sibuk dengan buku kita masing-masing, meskipun aku berada di sampingmu, kita tidak saling bicara. Diam. Tapi bagiku itu menyenangkan. Selesai membaca, barulah kita akan saling menceritakan hasil bacaan kita masing-masing. Dan aku selalu meledekmu dengan mengatakan, “selera bacaanmu buruk”. Kemudian kamu menimpalinya dengan, “biarin. Kamu tuh bacaannya berat banget, terlalu filosofis, njelimet dan bikin pusing. Ayolah… baca yang ringan-ringan dikit, kek” . tatapan tajam dan muka cemberutmu ketika mengatakan itu hanya bisa kutimpali dengan gelak tawa. Iya, aku tahu kamu bercanda mengatakannya, toh, buku-buku yang katamu bacaan berat itu, adalah pemberianmu juga, kan?. Aku suka menghabiskan waktu dengan membaca buku, tapi tanpamu, rasanya mungkin tak akan lagi sama.

Aku suka mengunjungi tempat-tempat ramai di tengah kota. Entah itu taman, kafe, bioskop, atau apa saja sampai pulang larut malam. Tapi siapa pun yang kemudian menemaniku ke tempat itu, rasanya mungkin tidak lagi senyaman saat aku mengunjunginya bersamamu. 

Aku juga senang menatap layar handphone-ku, menemukan notifikasi dengan tulisan namamu ketika ada pesan Whatsapp, BBM, atau Line yang masuk, termasuk juga ketika mendengar dering telepon, dan itu datangnya darimu. Tapi tidak akan semenyenangkan itu lagi, karena setiap kali aku membukanya, menatap layar handphone berkali-kali, dan itu bukan namamu lagi.

Aku ingin kamu tinggal, tentu saja. Aku tidak ingin kita berpisah, itu benar. Tapi jika kamu memutuskan ingin pergi lantas aku bisa apa? Katamu hubungan ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Bukankah kamu sendiri yang tidak mau berusaha bertahan? Dan saat aku berusaha untuk masalah ini agar dibicarakan dulu, kemudian berusaha mencari jalan keluar, katamu, “sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan”. Kamu tidak pernah mencari tahu apa yang seharusnya kita bicarakan, lalu dengan mudah mengatakan tak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Aku Pernah Mencintai Gadis Ini

Aku rasa, kita akan merindukan saat ini suatu hari nanti. Duduk di satu meja diiringi alunan musik yang memanjakan telinga. Bersama menyeruput kopi lalu bercerita sepanjang malam, dan tertawa setiap kali ada hal lucu yang kita bahas bersama. Aku suka mendengarmu bercerita. Kadang, untuk memperjelas suatu cerita, kamu seperti menggambar di suatu meja dengan jarimu, dan aku pun jadi bisa memahami deskripsi cerita yang kamu gambarkan, kemudian lagi-lagi tertawa. Aku juga suka mendengarmu tertawa. Pada tiap keriangannya, kerenyahannya, semuanya. Dan setiap suaramu yg terdengar di telinga, aku merekamnya dalam memori terbaik di otakku untuk kuputar kapan saja setiap kali aku menginginkannya. Lalu aku akan menyebut berulang namamu di hatiku. Iya, berulang. Tetapi kamu tak akan mendengarnya. Karena semua hanya terjadi di hatiku.

Seseorang Setelah Kamu

Saat masih bersamamu, aku seperti mengalami kejadian-kejadian yang ada di negeri dongeng. Selalu merasa lebih bahagia dari siapa pun, hingga aku bertanya dalam hati, apa benar ini dunia nyata? Tuhan mendesainnya indah sekali. Entah karena kamunya yang menjadi sebab, atau hatiku yang terlalu bahagia menerima kehadiranmu.

Saat masih bersamamu, aku tidak bisa tidak bahagia, termasuk ketika kamu dengan cekatan menyiapkan sarapan pagi untukku, termasuk ketika kamu menyodorkan minuman dingin persis di saat aku sedang merasakan haus yang amat sangat. Termasuk juga ketika kamu bersedia kuajak ke mana saja, lalu kita ciptakan momen-momen menyenangkan di sana, ngobrol berjam-jam di suatu kafe misalnya. Hanya hal-hal kecil, tetapi lebih dari cukup untuk membuatku merasakan senang tak terbilang.

Seseorang yang Tidak Sama Lagi

Sudah tidak ada gunanya lagi di sini, tempat ternyaman yang pernah tercipta karena kita saling membutuhkan. Saling mencari lantaran salah satunya tak memberi kabar. Saling rindu, hingga rindu itu terjelaskan dari tatap yang beradu setelah bertemu.

Sudah tidak ada gunanya lagi di sini, tempat yang membuatku selalu ingin pulang dan kembali. Kini sudah hambar sekarang. Dan sekarang nyatanya aku masih tetap di sini, bukan bermaksud ingin bertahan lebih lama, lebih karena takut untuk memutuskan pergi.

Tentang Mei, Aku, dan Belajar Melepaskan



Dia masih saja cantik seperti dulu. Caranya berjalan, tersenyum, menatap, masih juga seperti dulu. Iya, yang dulu pernah menyebabkan hatiku jatuh hingga tak ingin kuambil lagi. Yang dulu menjadi alasanku untuk jatuh cinta. Bedanya, kini dia terlihat lebih dewasa dan anggun. Menjadikannya terlihat lebih menarik sehingga memaksa mataku untuk sesekali melirik

Aku dan dia bersalaman dengan canggung. Dia tersenyum tanggung (walau tetap terlihat cantik), dan aku menimpalinya dengan senyum juga yang entah seperti apa dia memaknainya. Lalu, kami duduk berhadapan.

“sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?” Tanya dia membuka percakapan.

“Lama, sudah lama sekali. Kamu apa kabar?” aku menimpali. Sedikit gugup menjawabnya. Dan semoga dia tidak mengenali kegugupan yang baru saja kurasakan.

“Aku baik, walaupun kadang-kadang menjadi sedikit tidak baik ketika tiba-tiba ingatan tentangmu mengunjungi kepala. Ups… Aku bercanda. Habisnya, kamu sering bertindak konyol sih waktu itu. Dan ketika mengingat itu, aku selalu senyum-senyum sendiri.. hehehe.”

Aku berdehem, lalu menatap sekilas matanya dan tersenyum. Aku lega, kalimat yang ia katakan tadi setidaknya mampu mencairkan suasana yang canggung ini.

“kamu , masih saja seperti dulu. Lucu dan cerewet. Menyebalkan sekaligus menyenangkan. Ini yang membuatku ingin selalu berbincang denganmu berlama-lama.”  Astaga, apa yang baru saja kukatakan? Merayunya? Aku melihat jelas wajahnya bersemu merah karena mendengar ucapanku tadi. Dan suasana yang sudah  mulai cair ini kembali canggung untuk beberapa saat. Untung saja, aku diselamatkan oleh pramusaji yang membawakan menu pesanan kami berdua. Cappuccino panas untukku dan hot chocolate untuknya. Menu yang sama, di kafe yang sama. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya kami mengulanginya.

Malam ini Saja

Malam ini saja, izinkan aku mengucap terima kasih atas semua bahagia yang kamu ciptakan satu demi satu. Atas semua tawa yang tercipta dari ceplas-ceplosnya kamu. Atas setiap kejutan-kejutan yang kamu berikan dan membuatku tersanjung karenanya.

Malam ini saja, izinkan aku menatap binar matamu itu sambil berjanji, besok lusa kita masih akan tetap bersama melewati seberapa pun beratnya ujian di depan. Menghadapi serumit apa pun masalah demi masalah yang siap menghampiri kapan saja.

Malam ini saja, biarkan aku menggenggam jemarimu lekat. Memastikan bahwa bersamaku kamu tak akan kehilangan pegangan. Bahwa aku akan menuntunmu menuju Jannah-Nya. Karena ada surga yang tak bisa kumasuki, jika tanpamu.

Saat Kita Menua Bersama



Suatu kali kamu pernah bertanya  seberapa lama aku akan bertahan mencintaimu? Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Tetapi jika kita diberi kesempatan untuk menua bersama, aku akan tetap di sini, menemanimu setiap kali. Setiap hari. Meski dengan keriput di hampir seluruh kulitmu dan gigi yang tak lagi bersisa. Dengan rambutku yang mulai memutih dan aku menuntunmu atau kamu yang menuntunku karena salah satu dari kita tak mampu lagi sempurna melangkahkan kaki. Kita akan tetap berbahagia karena bisa meluangkan waktu seharian menikmati masa tua. Kita bisa mengisinya dengan ngobrol berdua,  nonton tv, atau sekadar duduk-duduk sambil minum kopi atau teh.

Terus Memperjuangkan

Aku bisa saja terus mengucapkan selamat pagi kepadamu setiap hari sampai kamu bosan. Tetapi terus kulakukan hingga kemudian kamu terbiasa dan mulai menerimanya.


Aku bisa saja terus meneleponmu setiap ada kesempatan meskipun kamu enggan untuk mengangkatnya. Tetapi pada suatu ketika kamu bersedia bicara seadanya dan menjawab setiap pertanyaanku dari seberang telepon. Tidak apa jika kamu tidak balik bertanya. Bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku saja itu sudah cukup.

Aku bisa saja terus mengirimimu pesan BBM yang berisi kata-kata romantis hanya agar kamu tersipu ketika membacanya. Tidak kamu balas pun tak apa-apa. Asalkan kamu sempat membacanya untuk kemudian entah sampai kapan akan tiba waktunya, kamu  dengan senang hati membalasnya.

Aku tentu saja bisa terus berusaha menemanimu kapan saja, meskipun kamu terlihat tidak terlalu menyukainya. Sampai kemudian entah di momen yg ke berapa, kamu mulai merasa lebih baik menerima kehadiranku.

Aku... tentu saja bisa dengan setia terus memupuk perasaan cinta kepadamu, meski aku tidak pernah tahu apakah kamu akan menjadi sinar mentari yang mampu menghangatkan setiap jengkal perasaanku agar tak pernah layu.

Aku bisa saja terus memperjuangkanmu sampai tidak ada lagi kata menyerah yang bisa kuucapkan..

Kesalahan Pertama dan Terbesar

Kita begitu piawai membicarakan masa depan seolah-olah kita benar-benar mengetahuinya. Tentang seperti apa konsep rumah tangga yang akan kita bangun, tentang berapa jumlah anak kita nanti, tentang bagaimana caranya mendaur ulang bahagia yang kita ciptakan setiap hari, juga tentang seperti apa rupa kita ketika tua. Kita membicarakannya dengan begitu antusias. Tertawa setiap kali pembicaraan kita sampai pada imajinasi tentang gigimu yang hanya tersisa dua, atau membayangkan rambutku yang mulai memutih dan hanya tersisa beberapa helai saja. Kita benar-bebar gila saat mengkhayal tentang masa depan. Kita gila karena kita sedang jatuh cinta. Kita begitu detail membicarakan masa depan sampai-sampai kita lupa satu hal, bagaimana jika pada akhirnya kita tidak ditakdirkan bersama? Ini kesalahan yang pertama sekaligus yang terbesar.

kita bahkan tidak mempersiapkan diri seandainya salah satu dari kita memutuskan pergi. Atau mungkin hanya aku saja yang lupa mempersiapkannya.

Saat Kita Menemukan Bahagia Sendiri-sendiri

Saat aku menulis ini, mungkin kamu sudah bahagia sekarang. Menemani buah hatimu yang lucu itu, atau sedang menyiapkan sarapan pagi yang sempurna untuk dinikmati bersama pria yang saat ini paling kamu sayangi.

Saat aku menulis ini, mungkin saja kamu sudah benar-benar lupa, bahwa aku pernah ada di sepersekian kali putaran waktu dalam hidupmu untuk menemanimu, memenuhi isi kepalamu dengan memori 'tentang kita' yang mungkin saja sudah terdelete sempurna atau setidaknya tertumpuk dengan memori baru dengan seseorang yang bukan aku lagi.

Tidak apa, memang begitu seharusnya. Saat kamu bersama kebahagiaanmu. Aku pun sudah menemukan kebahagiaanku sekarang. Aku malu sekali jika mengingat hari itu, hari di mana aku mendapati betapa keras kepalanya diriku, merasa yakin sekali bahwa tanpamu tidak akan ada lagi bahagia. Bahwa jika bukan bersamamu, apalah artinya bersama dengan yang lain. Dan mengklaim, bahwa hanya kamu satu-satunya di dunia yang bisa membuat hatiku jatuh hingga tak ingin kuambil lagi. Hanya kamu satu-satunya yang akan kucintai tanpa pernah selesai.

Seandainya Saja..

Dia adalah seseorang yang pertama kali mengucapkan kepadaku "selamat pagi, kamu. Ayo bangun, jagoan!" Dan juga yang rutin setiap malam mengatakan "selamat malam, tuan. Selamat tidur ya. Semoga tidurmu nyenyak. Aku berharap aku ada di sana, di tiap episode mimpi indah yang kauperankan. Bersamaku tentu saja". Kalimatnya, cukup membuatku tersenyum sendirian

Dia adalah seseorang yang gemar memberiku kejutan-kejutan. Selalu menyenangkan mendapati dirinya mengetuk pintuku dengan menyodorkan black forest yang selalu kusuka. Sesekali, dia pernah membuatkan nasi goreng telur dadar padahal aku masih tertidur lelap. Lalu dengan jahilnya ia membangunkan dengan mengagetkanku sampai kemudian aku terbangun kesal, tetapi tidak jadi marah karena ia menyogokku dengan nasi goreng lezat buatannya.

Seharusnya kita Bahagia Sekarang



Seharusnya kita sedang bahagia sekarang, menjalani kehidupan yang menyenangkan karena telah dibersamakan..

Seharusnya, aku yang menemanimu sekarang. Melewatkan momen-momen apa saja, membicarakan apa saja sampai larut malam. Sampai salah satu dari kita dihajar rasa kantuk yang membuat mata terpejam, lalu terbangun ketika sudah pagi. Dan wajahmu, adalah wajah yang kulihat pertama kali saat aku terbangun.

Seharusnya, kamu yang setiap pagi menyiapkan sarapan untukku. Tidak perlu yang terlalu mewah, cukup nasi goreng telur dadar. Asalkan kamu yang membuatkannya, aku akan lahap menghabiskannya.

Seharusnya, senyummu adalah senyum satu-satunya yang akan membuatku selalu berdebar. Ketika sibuk bekerja, ketika sibuk melakukan apa saja, kemudian teringat senyummu  mengunjungi kepala. Membuatku selalu cepat-cepat ingin pulang.

Seharusnya, kamu adalah satu-satunya yang kuajak bicara tentang berapa anak kita nantinya. Tentang seperti apa bentuk rumah kita. Seperti apa konsep pernikahan kita. Dan apa saja yang ingin kita capai berdua di masa tua. Seharusnya.

Seharusnya kita menjadi pasangan yang berbahagia di dunia, atau aku yang paling berbahagia di antara kita berdua. Seharusnya.

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme