
7/08/2014 12:37:00 AM

Kamu dan secangkir kopi sastra
, Posted in
Kepemimpinan
,
Opini
,
0 Comments
Hingar-bingar kampanye politik masih
saja terasa meskipun hari ini sudah memasuki masa tenang. Masih saja di sosial
media entah Facebook, twitter, dan media-media online masih ramai meneriakkan Prabowo maupun Jokowi.
Bahkan, semakin gencar saja rasanya ketika pemungutan suara hanya tinggal
hitungan tak lebih dari 2x24 jam. Hal ini wajar saja terjadi, pasalnya, di
detik-detik terakhir-lah kita harus benar-benar yakin, dan di detik terakhir
pula-lah banyak orang harus diyakinkan untuk memilih Presiden yang benar.
Benar-benar membawa kemakmuran rakyat, benar-benar jujur dan benar-benar amanah
mengemban dan menjalankan mandat dari rakyat.
Tulisan ini tak akan serta merta
membuat pendukung Jokowi tiba-tiba akan beralih mendukung Prabowo, sama sekali
tidak. Tetapi mengapa saya menulis ini? tentu saja karena saya hanya ingin
menyampaikan saja, menyampaikan yang seharusnya benar. Mengapa seharusnya?
Karena kebenaran sejati tentu saja hanya milik Allah saja. Dan saya, tentu saja
sama sekali tak berhak mengklaim secara absolut kebenaran itu.
Kita selalu merasa memilih Jokowi-Jk
adalah keputusan yang benar saat membaca tulisan dari pendukung Jokowi. Saat
Jokowi begitu di dewakan dan Prabowo dikerdilkan. Maka saat itu, muncul-lah
keyakinan kita untuk memilih Jokowi-JK. Pun pada saat membaca tulisan tentang
Prabowo yang ditulis secara indah oleh pendukung Prabowo, maka sepertinya hati
kita akan memilih Prabowo. Pertanyaannya, kita hanya boleh memilih satu saja,
lantas ke mana arah pilihan kita saat berada di bilik TPS pada 9 juli nanti?.
Begitu banyak sumber informasi yang masuk ke telinga, mata dan pikiran kita.
Terlalu banyak. Tetapi tidakkah kita mencoba mencermatinya dengan hati? Karena
mata memang selalu bisa melihat dengan jelas, tetapi hanya hati yang bisa
melihat dengan jujur.
Saya hanya ingin berbagi pengalaman
kepada para pembaca semua tentang betapa saya dulu begitu mengidolakan sosok
kerempeng bernama Joko Widodo. jika tak percaya, silahkan cek tulisan saya
berjudul “Jokowi the Phenomenon” (cek di http://abdurahman-el-farizy.blogspot.com/2012/09/jokowi-phenomenon.html
) Dalam tulisan itu betapa saya mengagungkan Jokowi sebagai pemimpin ideal
untuk Jakarta. Sayangnya, harapan tak selalu berjalan lurus dengan kenyataan
yang ada. Janji indah tak selalu seindah kenyataan. Nyatanya, belum ada yang
baru dari Jakarta, walaupun selalu dan selalu pihak Jokowi mengklaim Jakarta
sudah lebih baik. Tetapi mari kita bertanya pada akal sehat, sudahkah Jakarta
sebaik yang Jokowi janjikan?