• Imagen 1 Resensi Negeri 5 Menara
    Tidaklah sulit mengenali sebuah novel berkualitas. Sebuah logo pada sampul depan bertuliskan BEST SELLER dan berbagai opini positif dari para tokoh terkenal
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Siapa yang tidak jatuh cinta kepada Bapak Presiden?



Siapa yang tidak jatuh cinta kepada Bapak Presiden? Untuk menjenguk sang anak yang diwisuda, beliau rela menggunakan pesawat umum. Padahal, bisa saja beliau menggunakan pesawat kepresidenan yang mewah itu. Apa salahnya? Mengahdiri wisuda merupakan momen prestisius, bukan?

Siapa yang tidak jatuh cinta kepada Bapak Presiden? Mengenakan kemeja putih sederhana dengan ciri khas lengan tergulung layaknya sang pekerja yang begitu militan. Padahal, yang kami tahu, untuk kelas Presiden, pakaian necis dan jas mewah serta dasi mahal adalah ciri khas ideal untuk seorang Presiden pada umumnya.

Siapa yang tidak jatuh cinta kepada Bapak Presiden? Blusukan ke daerah mana saja yang terpencil sekali pun. Memanjat tower di pulau sebatik, menerabas banjir ibu kota dengan berjalan kaki menggulung celana, hingga berjibaku mencari korban longsor di tumpukan tanah bercampur lumpur di Banjarnegara.

Mengapa Prabowo, Padahal dulu Jokowi?



            Hingar-bingar kampanye politik masih saja terasa meskipun hari ini sudah memasuki masa tenang. Masih saja di sosial media entah Facebook, twitter, dan media-media online masih  ramai meneriakkan Prabowo maupun Jokowi. Bahkan, semakin gencar saja rasanya ketika pemungutan suara hanya tinggal hitungan tak lebih dari 2x24 jam. Hal ini wajar saja terjadi, pasalnya, di detik-detik terakhir-lah kita harus benar-benar yakin, dan di detik terakhir pula-lah banyak orang harus diyakinkan untuk memilih Presiden yang benar. Benar-benar membawa kemakmuran rakyat, benar-benar jujur dan benar-benar amanah mengemban dan menjalankan mandat dari rakyat.
            Tulisan ini tak akan serta merta membuat pendukung Jokowi tiba-tiba akan beralih mendukung Prabowo, sama sekali tidak. Tetapi mengapa saya menulis ini? tentu saja karena saya hanya ingin menyampaikan saja, menyampaikan yang seharusnya benar. Mengapa seharusnya? Karena kebenaran sejati tentu saja hanya milik Allah saja. Dan saya, tentu saja sama sekali tak berhak mengklaim secara absolut kebenaran itu.
            Kita selalu merasa memilih Jokowi-Jk adalah keputusan yang benar saat membaca tulisan dari pendukung Jokowi. Saat Jokowi begitu di dewakan dan Prabowo dikerdilkan. Maka saat itu, muncul-lah keyakinan kita untuk memilih Jokowi-JK. Pun pada saat membaca tulisan tentang Prabowo yang ditulis secara indah oleh pendukung Prabowo, maka sepertinya hati kita akan memilih Prabowo. Pertanyaannya, kita hanya boleh memilih satu saja, lantas ke mana arah pilihan kita saat berada di bilik TPS pada 9 juli nanti?. Begitu banyak sumber informasi yang masuk ke telinga, mata dan pikiran kita. Terlalu banyak. Tetapi tidakkah kita mencoba mencermatinya dengan hati? Karena mata memang selalu bisa melihat dengan jelas, tetapi hanya hati yang bisa melihat dengan jujur.
            Saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada para pembaca semua tentang betapa saya dulu begitu mengidolakan sosok kerempeng bernama Joko Widodo. jika tak percaya, silahkan cek tulisan saya berjudul “Jokowi the Phenomenon” (cek di http://abdurahman-el-farizy.blogspot.com/2012/09/jokowi-phenomenon.html ) Dalam tulisan itu betapa saya mengagungkan Jokowi sebagai pemimpin ideal untuk Jakarta. Sayangnya, harapan tak selalu berjalan lurus dengan kenyataan yang ada. Janji indah tak selalu seindah kenyataan. Nyatanya, belum ada yang baru dari Jakarta, walaupun selalu dan selalu pihak Jokowi mengklaim Jakarta sudah lebih baik. Tetapi mari kita bertanya pada akal sehat, sudahkah Jakarta sebaik yang Jokowi janjikan?

Menyoal Aksi ‘Kutu loncat’ Jokowi



            Jika kita bertanya tentang siapa tokoh fenomenal dan popular di negeri ini dalam 2 tahun terakhir, barangkali sosok bernama Joko Widodo  atau yang kerap disapa Jokowi layak dikedepankan sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, tentu kita semua masih ingat siapa Jokowi  delapan tahun silam?. Kala itu Jokowi hanyalah seorang Wali kota Solo. Setelah memulai karier politik sebagai Walikota Solo, Jokowi kemudian melesat menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan saat ini, seorang Jokowi berpeluang melenggang mudah menuju Istana Presiden sebagai orang nomor satu di negeri ini.
            Publik tentu masih mengingat dengan baik tentang kiprah politik Jokowi yang melesat sedemikian cepat. Jika dirunut dari awal, tahun 2005 Jokowi resmi menjabat sebagai Wali kota Solo berdampingan dengan  F.X. Hadi Rudyatmo sebagai Wakil Wali kota. Memimpin kota Solo pada periode pertama, Jokowi-Rudy sukses mengubah wajah kota Solo menjadi lebih baik, dengan menata para pedagang kaki lima, membenahi transportasi, pembenahan pasar tradisional dan ruang terbuka hijau serta berbagai kebijakan lainnya sehingga Kota Solo menjadi sangat tertib dan nyaman.  Bahkan, solo memiliki Branding “The Spirit of Java.

Jokowi The Phenomenon

Abdurahman Corner - Hari ini, tepatnya 20 september 2012 telah terjadi fenomena politik, fenomena kepemimpinan dan fenomena perubahan yang terjadi di Ibu kota Republik Indonesia, provinsi DKI Jakarta. Akhirnya pasangan Cagub Jokowi-Ahok dipastikan menang dalam pilkada yang diselenggarakan di seantero Jakarta setelah hasil Quickcount (hitung cepat) dari LSI menunjukkan angka 54,11% untuk pasangan tersebut mengalahkan pasangan Foke-Nara yang hanya meraup suara 45,89 %. sebelumnya, hasil pilkada putaran 1 juga menetapkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai pemenang mengalahkan 5 kandidat lain yang bersaing kala itu, namun untuk benar-benar menang dan menjadi DKI 1, perlu dilaksanakan Pilkada putaran 2 yang hanya menampilkan 2 kontestan yaitu pasangan nomor urut 1 dan 3.

Jodoh di Tangan Siapa?


Pernahkah anda berpikir siapakah yang akan menjadi jodoh anda?, atau ketika anda bertemu dengan seseorang yang menawarkan kedamaian dan kenyamanan di hati anda, lalu anda bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah dia jodoh ku?
Jodoh adalah perkara yang menjadi kegalauan banyak orang.  Bagi orang-orang yang masih single, mereka pasti akan cemas menanti jodoh yang terbaik baginya. Pun sama halnya bagi mereka yang telah menikah, mungkinkah mereka menikah dengan jodohnya (belahan jiwanya) atau bukan?. Lalu, mereka yang galau karena salah memilih jodoh mencoba mendamaikan hatinya dengan berkata, “Jodoh di tangan Tuhan”.
Benarkah jodoh di tangan Tuhan?, jika benar, mengapa banyak orang yang tidak bahagia dengan jodoh yang dipilihkan Tuhan untuknya?. Mengapa banyak pernikahan  yang diwarnai dengan perselingkuhan dan  perceraian padahal pernikahan tersebut adalah keputusan dari Tuhan? Dan mengapa banyak orang yang mengeluh karena telah menikahi orang yang salah?, berarti itu sama artinya dengan menyalahkan keputusan Tuhan terhadap jodoh yang dipilihkan  kepadanya. 

Perspektif Cinta dari Mario Teguh

Cinta adalah dorongan tidak logis yang mengharuskan kita dekat dan memiliki objek dari kecintaan kita. Karena semua ini adalah mekanisme yang dibangun Tuhan agar kehidupan berlangsung. Karena jika sudah tertarik seperti itu, laki-laki dan wanita tidak lagi memilih.

Saat dimana kita jatuh cinta akan terasa sesuatu yang indah, nyaman dan penuh warna. Lalu menggunakan kekuatan yang sama dalam pengertian2 yang baru, untuk menjadikan kita pribadi yang hidup dalam kecintaan yang menghebatkan hubungan kita dengan orang lain.

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme