Maukah kamu berada satu shaf di belakangku?



            Aku tak tahu harus memulai dari mana. Saat kali pertama aku melihatmu, kemudian terjadi lagi pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya hingga sampailah kepada pertemuan yang entah kesekian ratus kali jumlahnya. Tetapi di pertemuan yang kesekian ratus kalinya ini aku ingin bertanya, maukah kamu berada satu shaf di belakangku? Tidak perlu tergesa-gesa untuk menjawab, aku masih punya banyak waktu untuk menunggu. Tentu saja, kamu pun punya banyak waktu untuk mempertimbangkan tawaranku ini. Maka agar urusan ini menjadi lebih mudah, boleh kan jika aku meyakinkanmu lewat beberapa kalimat agar kamu lebih mudah memutuskannya?
            Maukah kamu berada satu shaf di belakangku? Untuk shalat malam berdua, kemudian kamu mengaminkan setiap doa yang kupanjatkan. Lalu bersama-sama melafalkan surat cinta yang sejak lama diFirmankan oleh Tuhan kita sambil mentadabburi artinya serta belajar menjalaninya bersama-sama.
            Maukah kamu berada satu shaf di belakangku? Bukan untuk shalat saja, tetapi untuk saling membantu. Kamu membantuku menyiapkan perlengkapan kerjaku setiap hari, menyiapkan secangkir kopi panas setiap pagi dan menyambutku sepulangnya aku lelah bekerja. Aku pun akan membantumu melakukan banyak hal ; menyediakan bahuku sambil menemanimu bercerita untuk mengurai semua masalah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Memastikan kondisimu selalu dalam keadaan yang menyenangkan. Dan tentu saja, menjadi pelindung yang selalu kamu butuhkan.

            Maukah kamu satu shaf di belakangku? Untuk mengejar bahagia yang sederhana. Kamu cukup menaati nasihatku yang berisi kebaikan. Mengingatkan jika aku keliru, serta selalu menyertaiku dalam setiap momen suka dan duka. Dan tentu saja, melewati masalah demi masalah bersama-sama hingga akhirnya kita dapat menghebat bersama.
            Maukah kamu berada satu shaf di belakangku? Aku menjadi imam dan kamu menjadi makmum dalam sebuah keluarga kecil yang sederhana. Kamu tidak perlu takut aku akan menuntutmu macam-macam, juga jangan khawatir andainya kamu lupa bersolek di depan meja rias. Asalkan kamu mau shalat bersamaku, mematuhi setiap kata-kataku dan ikhlas mendampingiku dengan setia. Maka kupastikan akan membidadarikan dirimu. Membimbingmu dengan penuh pengertian, dan menemanimu dengan penuh kecintaan.
            .................................................................................................................................................
.................................selengkapnya ada di buku.............................Cerah dalam Cinta............................
............................................................................

Abdurahman El-Farizy
Poris Gaga, Batuceper, Kota Tangerang
13 Agustus 2014, 09:58 WIB

4 Response to " Maukah kamu berada satu shaf di belakangku?"

  1. Unknown says:
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
    Unknown says:

    Tulisan yang sungguh menggugah hati setiap yang membacanya, membuat tersenyum disetiap kalimat2 sederhananya, tidak pernah bosan untuk membacanya bahkan berkali kali. Two thumbs Up 👍

    ijin share yah mas:)

    Silakan mas..saya ijinkan tentu saja :)

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme