• Imagen 1 Resensi Negeri 5 Menara
    Tidaklah sulit mengenali sebuah novel berkualitas. Sebuah logo pada sampul depan bertuliskan BEST SELLER dan berbagai opini positif dari para tokoh terkenal

Tentang Mei, Aku, dan Belajar Melepaskan



Dia masih saja cantik seperti dulu. Caranya berjalan, tersenyum, menatap, masih juga seperti dulu. Iya, yang dulu pernah menyebabkan hatiku jatuh hingga tak ingin kuambil lagi. Yang dulu menjadi alasanku untuk jatuh cinta. Bedanya, kini dia terlihat lebih dewasa dan anggun. Menjadikannya terlihat lebih menarik sehingga memaksa mataku untuk sesekali melirik

Aku dan dia bersalaman dengan canggung. Dia tersenyum tanggung (walau tetap terlihat cantik), dan aku menimpalinya dengan senyum juga yang entah seperti apa dia memaknainya. Lalu, kami duduk berhadapan.

“sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?” Tanya dia membuka percakapan.

“Lama, sudah lama sekali. Kamu apa kabar?” aku menimpali. Sedikit gugup menjawabnya. Dan semoga dia tidak mengenali kegugupan yang baru saja kurasakan.

“Aku baik, walaupun kadang-kadang menjadi sedikit tidak baik ketika tiba-tiba ingatan tentangmu mengunjungi kepala. Ups… Aku bercanda. Habisnya, kamu sering bertindak konyol sih waktu itu. Dan ketika mengingat itu, aku selalu senyum-senyum sendiri.. hehehe.”

Aku berdehem, lalu menatap sekilas matanya dan tersenyum. Aku lega, kalimat yang ia katakan tadi setidaknya mampu mencairkan suasana yang canggung ini.

“kamu , masih saja seperti dulu. Lucu dan cerewet. Menyebalkan sekaligus menyenangkan. Ini yang membuatku ingin selalu berbincang denganmu berlama-lama.”  Astaga, apa yang baru saja kukatakan? Merayunya? Aku melihat jelas wajahnya bersemu merah karena mendengar ucapanku tadi. Dan suasana yang sudah  mulai cair ini kembali canggung untuk beberapa saat. Untung saja, aku diselamatkan oleh pramusaji yang membawakan menu pesanan kami berdua. Cappuccino panas untukku dan hot chocolate untuknya. Menu yang sama, di kafe yang sama. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya kami mengulanginya.

Malam ini Saja

Malam ini saja, izinkan aku mengucap terima kasih atas semua bahagia yang kamu ciptakan satu demi satu. Atas semua tawa yang tercipta dari ceplas-ceplosnya kamu. Atas setiap kejutan-kejutan yang kamu berikan dan membuatku tersanjung karenanya.

Malam ini saja, izinkan aku menatap binar matamu itu sambil berjanji, besok lusa kita masih akan tetap bersama melewati seberapa pun beratnya ujian di depan. Menghadapi serumit apa pun masalah demi masalah yang siap menghampiri kapan saja.

Malam ini saja, biarkan aku menggenggam jemarimu lekat. Memastikan bahwa bersamaku kamu tak akan kehilangan pegangan. Bahwa aku akan menuntunmu menuju Jannah-Nya. Karena ada surga yang tak bisa kumasuki, jika tanpamu.

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme