Saat Kita Menua Bersama



Suatu kali kamu pernah bertanya  seberapa lama aku akan bertahan mencintaimu? Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Tetapi jika kita diberi kesempatan untuk menua bersama, aku akan tetap di sini, menemanimu setiap kali. Setiap hari. Meski dengan keriput di hampir seluruh kulitmu dan gigi yang tak lagi bersisa. Dengan rambutku yang mulai memutih dan aku menuntunmu atau kamu yang menuntunku karena salah satu dari kita tak mampu lagi sempurna melangkahkan kaki. Kita akan tetap berbahagia karena bisa meluangkan waktu seharian menikmati masa tua. Kita bisa mengisinya dengan ngobrol berdua,  nonton tv, atau sekadar duduk-duduk sambil minum kopi atau teh.


Kamu mungkin tidak secantik dulu lagi. Tetapi bagiku, kamu masih tetap cantik sesuai dengan usiamu. Kita mungkin sudah tidak akan sekuat dulu lagi, ketika kita masih bisa mengunjungi banyak tempat. Ketika kita bisa menaklukkan ketinggian ribuan Mdpl berbagai puncak gunung karena kaki kita sudah tak lagi sehebat biasanya. Tetapi waktu yang bisa kita habiskan di masa tua akan terasa lebih lama dibandingkan ketika usia kita masih dua puluh tiga. Karena kita akan menikmati waktu-waktu itu dengan percakapan-percakapan yang berisi tentang kenangan di masa muda. Kita akan tertawa membicarakan masa lalu kita. Bukan, bukan masa lalu kita bersama orang lain. Tetapi tentang kita berdua tentu saja. Kita melakukan flashback dari pertama bertemu hingga sampai pada usia tua. Aku akan tertawa setiap kali mengingat momen-momen konyol yang pernah terjadi di antara kita berdua. Tentang pertengkaran-pertengkarannya, kebodohan-kebodohan mempertahankan ego masing-masing, tentang kecerewetanmu dan kekeraskepalaanku, dan segala hal konyol lainnya yang membuat kita tak bisa berhenti mengenangnya. Tetapi meski dengan semua itu, dengan semua pertengkaran dan ego kita ketika masih muda dulu, kita masih bisa bertahan, sekarang dan nanti.

Lalu setelah itu, aku pasti bersyukur karena kita masih dibersamakan oleh Tuhan. Bahwa kita masih bertahan sampai raga kita menua. Egoku besar, egomu jauh lebih besar. kamu keras kepala, aku jauh lebih keras kepala. Tetapi kamu selalu mau berubah meski harus lebih dahulu marah-marah. Dan aku mau bersabar agar tidak lebih lama bertengkar atau membuat masalah itu menjadi lebih besar. 

Dan mungkin pada saat tua nanti, kamu akan mengatakan bahwa kamu pernah bertemu dengan orang lain yang lebih baik dari aku. aku pun juga begitu. Tetapi kamu tetap memutuskan untuk menjatuhkan pilihan padaku dan aku tetap memutuskan memilihmu. Mungkin pernah terlintas untuk pergi, namun tak pernah bisa beranjak walau sesenti. Mungkin pernah bosan dan merasa tidak lagi sama dan tidak lagi saling mengerti, tetapi kemudian memperbaikinya lagi hingga kita tetap memutuskan untuk tetap di sini. Kita masih di sini sampai sekarang ini.

Karena meskipun sudah menua nanti, aku masih bisa bercanda tentang pipi keriputmu atau uban panjangmu. Aku masih bisa meledek gigi ompongmu. Aku akan tetap berada di sini. Mencintaimu lagi dan lagi.

Tangerang, 25-11-2015,  00:33 AM

0 Response to "Saat Kita Menua Bersama"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme