DAKWAH MELALUI POLITIK


A.       Peranan dakwah dalam dunia politik
             Tugas dan kewajiban dakwah (dalam pengertian luas) adalah tanggung jawab setiap Muslim kapan dan di mana pun, apa pun posisi, jabatan, profesi dan keahliannya. Ini karena dakwah adalah sebuah pekerjaan yang akan menghantarkan ketinggian dan kekuatan umat. Dakwah ini pula akan menyebabkan kebahagiaan yang hakiki, di dunia maupun di akhirat  (QS Ali Imran [3]: 104). Oleh karena itu, ketika kita menjadi pejabat, birokrat, pengusaha, politisi, kita pun harus menjadi dai, demikian pula dalam bidang-bidang lainnya. Meskipun demikian karena dakwah memerlukan pemikiran yang serius, sungguh-sungguh, dan perhatian yang penuh maka dalam implementasi dan pelaksanaannya, harus dilakukan oleh kelompok-kelompok orang dan umat, yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk melakukan dakwah, baik secara lisan, tulisan, maupun juga dengan tingkah laku dan amal perbuatan[1]. 

       Sejalan dengan tujuan yang terdapat dalam dakwah, maka dakwah dapat di sinergikan ke dalam kegiatan politik karena pada hakikatnya dakwah dan politik memiliki tujuan yang sama, yakni membawa kehidupan manusia menjadi lebih baik. Politik bagi kaum Muslimin merupakan suatu kebutuhan dan keniscayaan karena politik sangat berkaitan dengan semua bidang dan dimensi kehidupan. Tanpa politik, tidak mungkin kita bisa membangun sebuah kehidupan yang baik, yang adil dan sejahtera. Hukum tidak mungkin bisa ditegakkan tanpa ada kemauan politik dari semua pihak yang terlibat di dalamnya. Ekonomi syariah pun tidak mungkin bisa dilaksanakan di negara kita tanpa ada kemauan politik dari semua stakeholders-nya. lebih dari itu, politik juga menjadi syarat utama berjalannya suatu pemerintahan. Tetapi dalam praktiknya politik seringkali dijadikan alat untuk memonopoli kekuasaan dan sarana untuk mengumpulkan kekayaan. Tujuan politik yang awalnya mulia menjadi hina ketika para politisi yang bergelut dalam aktivitas politiknya berlomba-lomba memperkaya diri sendiri. Politik yang menjadi kendaraan untuk memerintah berubah fungsi menjadi alat penindasan bagi rakyat jelata.

          Ketika praktik politik tak lagi berdasarkan syariat yang dibenarkan, maka disinilah peranan dakwah. Dakwah bisa menjadi jalan keluar terwujudnya politik yang jujur, bersih, adil dan membawa kemaslahatan bagi umat maupun bangsa. Salah satu fungsi dakwah ialah amar ma’ruf nahy munkar. Amar ma’ruf artinya menyuruh kepada kebaikan, sedangkan nahy munkar adalah mencegah dari yang munkar (perbuatan buruk)[2]. Dengan kata lain fungsi dakwah ialah menjadi social control yang dapat mengawasi pelaksanaan kegiatan politik serta meluruskannya jika terjadi penyimpangan.     
 

B.        Hakikat korelasi dakwah dan  politik
Dakwah Islam yang telah berlangsung sekian lama pada intinya adalah sebuah proses dan upaya tabligh dalam arti menyampaikan kebenaran ajaran agama untuk membangun tatanan kehidupan yang penuh kedamaian dan jauh dari dendam masa lalu serta berusaha menatap ke depan yang lebih baik. Dalam bahasa fikih dakwah, membawa manusia dari jahiliyah menuju ilmiah, dari keadaan terpuruk menjadi penuh kemaslahatan, dan keadaan yang tidak mengindahkan aturan menuju keadaan yang memahami serta menaati peraturan dan begitu seterusnya.

       Dalam hal ini jelas kebenaran ajaran Islam bahwa berpolitik bagian dari dakwah dan dakwah merupakan tujuan dari berpolitik. Politik merupakan salah satu elemen dakwah karena aktivitas yang terdapat dalam politik memiliki tujuan yang sama-sama mulia, yakni mewujudkan terciptanya masyarakat madani dan umat yang kokoh dan sejahtera. Sehingga dapat disimpulkan bahwa politik adalah alternatif dari pelaksanaan dakwah yang biasanya identik dengan ceramah, tabligh atau retorika semata.

C.       Penerapan nilai-nilai dakwah dalam budaya berpolitik
Ada 4 hal yang berkaitan dengan makna politik. Yang pertama, seni mengatur pemerintahan. Kedua, seni mengelola perubahan. Ketiga, upaya merealisasikan kebaikan. Dan keempat, kepedulian terhadap urusan uma[3]t. Dari keempat makna politik tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa politik memiliki tujan yang mulia sebagaimana tujuan yang terdapat dalam dakwah. Maka itulah penerapan nilai-nilai dakwah dalam menjalankan aktivitas politik mutlak diperlukan guna mewujudkan politik yang jujur, bersih, amanah dan bermanfaat  seperti yang dijlankan oleh Rasulullah SAW.

Penerapan nilai-nilai dakwah dalam dunia politik, biasanya diwujudkan dengan mendirikan partai-partai politik yang berasaskan islam. Di Indonesia partai politik yang berasaskan Islam cukup banyak, di antaranya ialah :PPP, PKS, PKB, PAN, PKNU, PBB dan lain sebagainya. Maksud dari didirikannya partai-partai politik berasaskan islam tersebut tak lain adalah upaya untuk menjalankan fungsi dakwah dan politik secara bersama-sama. Tak jarang Partai-partai islam mengajak kader-kader dari kalangan ulama untuk ikut berkecimpung dalam partai tersebut dengan tujuan pembinaan umat melalui partai politik. Sehingga dengan begitu, diharapkan para politisi dari partai-partai islam adalah politisi yang jujur, cakap dan religius.

D.       Manfaat korelasi antara dakwah dengan politik.
Tak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali manfaat yang bisa didapat dari korelasi dakwah dengan politik.  Dakwah bisa menjadi control social dan pengawas pelaksanaan kegiatan politik, karena dakwah selalu menyeru kepada kebenaran dan selalu mengajak manusia untuk menjauhi berbagai penyimpangan.

Tanpa dilandasi dengan kebenaran islam yang disampaikan melalui pesan dakwah, politik hanyalah sarana untuk melanggengkan kekuasaan dan alat penindasan, karena arah politik memang menuju gerbang kekuasaan namun bukan kekuasaan yang berujung pada kesewenang-wenangan. Dakwah menjadi filter (penyaring) kegiatan politik agar tercipta politik yang bersih, jujur, dan amanah serta selaras dengan harapan.

Manfaat lain yang bisa kita petik dari korelasi antara dakwah dengan politik ialah terwujudnya tatanan politik yang religious sehingga tidak saja berdampak pada kemajuan suatu bangsa tetapi juga kemajuan bagi umat islam. Dakwah melalui politik menghasilkan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat karena politik merupakan aksi nyata dari usaha mennyejahterakan umat melalui system pemerintahan yang bersih, jujur dan  transparan  


PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dakwah melalui politik adalah kegiatan dakwah yang memasuki ranah politik. Aplikasi dakwah melalui politik diwujudkan dengan aktivitas para kader-kader dakwah yang juga berperan dalam partai politik. Para aktivis dakwah menyalurkan partisipasi politiknya dengan cara mendirikan atau berkecimpung dalam suatu partai politik berasaskan islam yang tujuannya mencetak kader yang religious, kompeten dan amanah serta menjalankan system politik sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Lebih jauh lagi dakwah melalui politik akan berdampak pada lahirnya pemimpin yang cakap dan berkomitmen melaksanakan politik berdasarkan syariat islam.

B.     Saran
Sebagai umat islam sekaligus insan yang memiliki intelektualitas, hendaknya kita menilai  politik sebagai kegiatan yang positif sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan umat. Dan tidak anti terhadap segala macam aktivitas politik, karena suatu pemerintahan yang baik hanya bisa diwujudkan dengan partisipasi terhadap kegiatan politik terlebih dahulu.





[1] Republika: Aktivitas Dakwah dalam Dunia Politik.Jakarta : 2009
[2] Dr. A, Ilyas Ismail, MA, Paradigma dakwah Sayyid Quthub : Rekonstruksi pemikiran dakwah harakah, Jakarta : pena madani 2006. h.168
[3] Purwadarminta. Civic Education, Jakarta  : Gramedia Pustaka 2007

0 Response to "DAKWAH MELALUI POLITIK"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme