• Imagen 1 Resensi Negeri 5 Menara
    Tidaklah sulit mengenali sebuah novel berkualitas. Sebuah logo pada sampul depan bertuliskan BEST SELLER dan berbagai opini positif dari para tokoh terkenal
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Jatuh Cintanya Sudah, Mengatakannya Saja yang Tidak Pernah


Aku mencintaimu sejak rambutmu masih berkepang dua. Sampai sekarang. Ketika rambutmu sudah tertutup kain yang tentu saja semakin membuatmu terlihat lebih anggun dan jelita.

Entah mengapa aku tak pernah bisa mengatakannya? Bukan. Bukan karena takut akan semua resikonya. Bukan karena takut membayangkan 'sudah susah payah merangkai kata-kata dan gemetar mengucapkannya' lalu kamu hanya akan menimpalinya, "Maaf aku tidak bisa" atau "Maaf, aku mencintai pria lain". Bukan itu. Hanya saja setiap kali ingin mulai mengatakannya, ada keraguan yang pelan-pelan menyelinap. Pelan memang, tetapi cukup untuk membuatku urung mengatakannya. Dan keraguan itu bukan terletak pada perasaannya. Bukan pada apakah aku benar-benar mencintaimu atau tidak. Tapi keraguan itu ada pada diriku sendiri. Tentang kepantasan menemanimu sepanjang usia. Menemanimu bercerita dan aku mendengarkannya setiap hari lalu kita menciptakan tawa di sana . Tentang kepantasanku kalau besok lusa kita menikah, apakah aku akan menjadi imam yang baik atau tidak. Dan yang paling penting adalah, apakah aku pantas untuk memperoleh balasan cinta yang sama?

Memaafkan tetapi tidak untuk melupakan

Aku tidak pernah dan tidak akan membencimu. Tetapi, bukan berati akan melupakan semuanya. Tentang luka yang kamu titipkan kepadaku. Tentang keegoisanmu di masa lalu, juga tentang perasaan tulus yang kamu balas dengan pengkhianatan. Semuanya.

Aku akan menyimpannya. Semuanya. Untuk menjadi pelajaran bahwa besok lusa aku tak boleh mengalaminya lagi. Juga untuk menjadi penanda, bahwa jika memang harus jatuh cinta lagi, maka kupastikan harus jatuh di tempat yang semestinya. Bukan di hati yang sama pada orang yang sama lagi.

Ini Tentang Kita, Bukan Tentang Apa yang Mereka Katakan

Dua orang yang saling mencintai tetaplah dua orang yang memiliki kehidupan masing-masing. Sebagaimana aku dengan kesibukanku, dan kamu dengan kesibukanmu. Sebagaimana kamu memiliki sahabat dekat, dan aku memiliki kawan dekat. Kita bisa menjalani kehidupan berbeda kita, meski kita sama-sama jatuh cinta. Namun di sini, ketika hanya ada aku dan kamu, maka ini menjadi tentang kita saja.      

Aku senang, ketika kamu menghabiskan libur akhir pekan dengan berjalan-jalan seharian dengan sahabatmu. Tertawalah bersamanya, nikmati setiap momen persahabatan kalian yang berkesan. Bahkan ketika kamu harus curhat sepanjang malam dengan sahabatmu, lagi-lagi aku tidak keberatan. Sesama perempuan memang harus saling berbagi cerita. Aku tidak mengatakan itu sama dengan Bergosip. Kadang, bagi sebagian perempuan, cara yang baik mengaktualisasi diri adalah dengan saling curhat. Benar tidak?  

Lalu apakah kamu tidak keberatan kalau aku menghabiskan satu-dua malam dengan nongkrong bersama teman-teman? Kamu jangan khawatir, paling aku hanya menonton pertandingan sepak bola, lalu menghabiskan beberapa gelas kopi, kacang dan juga gorengan. Atau kami hanya akan duduk melingkar sambil main kartu atau berdiskusi tentang siapa yang paling pantas jadi Gubernur tahun depan. Kadang kami juga ngobrol santai membahas apa saja hingga kami tertawa, menertawakan diri sendiri. Itu yang kulakukan bersama teman-teman. Tetapi kalau waktunya tiba, saat rindumu memanggilku. Aku di sini, meninggalkan semua hiruk-pikuk itu untuk menujumu. Jadi, sesibuk-sibuknya, aku akan tetap mengutamakanmu. Karena ini bukan persoalan mana yang lebih penting antara kamu dengan mereka. Tetapi ini tentang kita. Kalau bicaranya sudah 'Tentang Kita', maka itu sama artinya dengan bicara tentang masa depan. Dan aku rela meninggalkan semua sibukku hanya untuk menukarnya dengan ribuan detik berharga bersamamu.

Maafkan Aku yang Dulu, Nay!

‘Di balik Pria sukses selalu ada wanita hebat di belakangnya’, kalimat itu benar sekali, Nay. Lihatlah, meski belum  benar-benar menjadi sukses, setidaknya aku mengerti  dan benar-benar memahami sekarang bahwa quote itu bukan omong kosong belaka.

Kamu adalah orang yang paling cerewet di masa-masa kuliah dulu. Aku ingat, kamu berseru sebal setiap kali aku mengabaikan tugas akhirku. Kamu adalah orang yang paling sering mengingatkan setiap hari, mengomeliku kalau aku malas menemui dosen pembimbing, atau bosan berkutat dengan laptop, buku-buku dan penelitian. Katamu, “mau kapan selesainya coba, kalau kamu malasan-malasan begini ngerjain skripsinya, hah?”.  Aku mengerti, Nay, kalau omelanmu itu akan berefek baik bagi kecepatan mengerjakan skripsiku. Dan ajaib, Nay, aku bisa menyelesaikan tugas akhirku yang menyebalkan itu seperti yang kamu harapkan. Sudah skripsinya menyebalkan, caramu menyemangatiku juga menyebalkan. Namun oleh sebab itu aku bisa lebih giat akhirnya.

Setelah aku lulus, apakah kamu berhenti menghardikku?, ah maksudku, berhenti mengomeliku? Tidak. Aku tahu bahwa tugasku sebagai laki-laki belum selesai. Kehormatan bagi laki-laki yang baru lulus tentu saja mendapatkan pekerjaan sesegera mungkin. Aku ingat, entah serius atau bercanda kamu pernah berujar, “bagaimana bisa menikahiku kalau kamu masih pengangguran? Menikah itu mahal, Bang, ada listrik yang harus dibayar, ada susu dan popok yang harus dibeli, dan tentu saja, keperluan kosmetikku menjadi tanggungjawabmu”. Dan aku mendengus sebal demi menerima kalimat darimu. Tetapi kamu benar, Nay, untuk membangun keluarga, aku harus bekerja lebih keras agar besok lusa kita bukan saja hanya memiliki keluarga sakinah, tetapi juga bermartabat.

Untuk Seseorang yang Tak Bisa Kubahagiakan

Halo, kamu.. Aku tak bermaksud menanyakan kabarmu, karena aku tahu kabarmu sudah jauh lebih baik sekarang. Benar, kan? Tentu saja. Karena jika tujuanmu pergi dariku agar kamu lebih bahagia, seharusnya kamu sudah bahagia sekarang. Ya, aku sudah melepaskanmu sekarang, bahkan sebelum benar-benar melepaskan, aku tidak benar-benar mengikatmu, bukan? Agar sewaktu-waktu kamu meminta pergi, kamu bisa pergi dengan mudah.

Entah kenapa setelah kamu akhirnya pergi, aku bertambah lega sekarang. Jangan dulu salah paham, aku bahagia bersamamu sesungguhnya. Paling tidak, aku tak pernah merasa kesepian karena kamu bisa menyapaku kapan saja. Kalau aku ingin ngobrol, kalau aku kerepotan, termasuk juga kalau aku butuh diperhatikan, setidaknya kamu ada. Bahkan bisa dibilang, kamu selalu ada. Yang membuatku lega adalah kamu bisa mengejar bahagiamu sekarang. Mencari bahagia yang tidak kamu dapat dariku. Kamu harus menemukan bahagiamu, Harus! Seperti aku yang telah menemukan bahagiaku. Ya, aku sudah menemukannya. Kamu tahu sejak kapan? Tepatnya saat kamu memutuskan untuk mencintaiku pertama kali. Kemudian berlanjut sampai kamu bersedia menemaniku, menghabiskan banyak waktu bersamaku, hingga melakukan apa saja bersamaku. Itu adalah bahagiaku. Kalau kamu? Entahlah.

Tak Bisakah Kita Bertahan Dulu?

Aku suka menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku. Buku apa saja, entah novel yang sering kamu hadiahkan untukku. Atau buku politik, hukum, sastra yang merupakan koleksi pribadiku. Lalu kita sibuk dengan buku kita masing-masing, meskipun aku berada di sampingmu, kita tidak saling bicara. Diam. Tapi bagiku itu menyenangkan. Selesai membaca, barulah kita akan saling menceritakan hasil bacaan kita masing-masing. Dan aku selalu meledekmu dengan mengatakan, “selera bacaanmu buruk”. Kemudian kamu menimpalinya dengan, “biarin. Kamu tuh bacaannya berat banget, terlalu filosofis, njelimet dan bikin pusing. Ayolah… baca yang ringan-ringan dikit, kek” . tatapan tajam dan muka cemberutmu ketika mengatakan itu hanya bisa kutimpali dengan gelak tawa. Iya, aku tahu kamu bercanda mengatakannya, toh, buku-buku yang katamu bacaan berat itu, adalah pemberianmu juga, kan?. Aku suka menghabiskan waktu dengan membaca buku, tapi tanpamu, rasanya mungkin tak akan lagi sama.

Aku suka mengunjungi tempat-tempat ramai di tengah kota. Entah itu taman, kafe, bioskop, atau apa saja sampai pulang larut malam. Tapi siapa pun yang kemudian menemaniku ke tempat itu, rasanya mungkin tidak lagi senyaman saat aku mengunjunginya bersamamu. 

Aku juga senang menatap layar handphone-ku, menemukan notifikasi dengan tulisan namamu ketika ada pesan Whatsapp, BBM, atau Line yang masuk, termasuk juga ketika mendengar dering telepon, dan itu datangnya darimu. Tapi tidak akan semenyenangkan itu lagi, karena setiap kali aku membukanya, menatap layar handphone berkali-kali, dan itu bukan namamu lagi.

Aku ingin kamu tinggal, tentu saja. Aku tidak ingin kita berpisah, itu benar. Tapi jika kamu memutuskan ingin pergi lantas aku bisa apa? Katamu hubungan ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Bukankah kamu sendiri yang tidak mau berusaha bertahan? Dan saat aku berusaha untuk masalah ini agar dibicarakan dulu, kemudian berusaha mencari jalan keluar, katamu, “sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan”. Kamu tidak pernah mencari tahu apa yang seharusnya kita bicarakan, lalu dengan mudah mengatakan tak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Aku Pernah Mencintai Gadis Ini

Aku rasa, kita akan merindukan saat ini suatu hari nanti. Duduk di satu meja diiringi alunan musik yang memanjakan telinga. Bersama menyeruput kopi lalu bercerita sepanjang malam, dan tertawa setiap kali ada hal lucu yang kita bahas bersama. Aku suka mendengarmu bercerita. Kadang, untuk memperjelas suatu cerita, kamu seperti menggambar di suatu meja dengan jarimu, dan aku pun jadi bisa memahami deskripsi cerita yang kamu gambarkan, kemudian lagi-lagi tertawa. Aku juga suka mendengarmu tertawa. Pada tiap keriangannya, kerenyahannya, semuanya. Dan setiap suaramu yg terdengar di telinga, aku merekamnya dalam memori terbaik di otakku untuk kuputar kapan saja setiap kali aku menginginkannya. Lalu aku akan menyebut berulang namamu di hatiku. Iya, berulang. Tetapi kamu tak akan mendengarnya. Karena semua hanya terjadi di hatiku.

Seseorang yang Tidak Sama Lagi

Sudah tidak ada gunanya lagi di sini, tempat ternyaman yang pernah tercipta karena kita saling membutuhkan. Saling mencari lantaran salah satunya tak memberi kabar. Saling rindu, hingga rindu itu terjelaskan dari tatap yang beradu setelah bertemu.

Sudah tidak ada gunanya lagi di sini, tempat yang membuatku selalu ingin pulang dan kembali. Kini sudah hambar sekarang. Dan sekarang nyatanya aku masih tetap di sini, bukan bermaksud ingin bertahan lebih lama, lebih karena takut untuk memutuskan pergi.

Saat Kita Menua Bersama



Suatu kali kamu pernah bertanya  seberapa lama aku akan bertahan mencintaimu? Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Tetapi jika kita diberi kesempatan untuk menua bersama, aku akan tetap di sini, menemanimu setiap kali. Setiap hari. Meski dengan keriput di hampir seluruh kulitmu dan gigi yang tak lagi bersisa. Dengan rambutku yang mulai memutih dan aku menuntunmu atau kamu yang menuntunku karena salah satu dari kita tak mampu lagi sempurna melangkahkan kaki. Kita akan tetap berbahagia karena bisa meluangkan waktu seharian menikmati masa tua. Kita bisa mengisinya dengan ngobrol berdua,  nonton tv, atau sekadar duduk-duduk sambil minum kopi atau teh.

Terus Memperjuangkan

Aku bisa saja terus mengucapkan selamat pagi kepadamu setiap hari sampai kamu bosan. Tetapi terus kulakukan hingga kemudian kamu terbiasa dan mulai menerimanya.


Aku bisa saja terus meneleponmu setiap ada kesempatan meskipun kamu enggan untuk mengangkatnya. Tetapi pada suatu ketika kamu bersedia bicara seadanya dan menjawab setiap pertanyaanku dari seberang telepon. Tidak apa jika kamu tidak balik bertanya. Bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku saja itu sudah cukup.

Aku bisa saja terus mengirimimu pesan BBM yang berisi kata-kata romantis hanya agar kamu tersipu ketika membacanya. Tidak kamu balas pun tak apa-apa. Asalkan kamu sempat membacanya untuk kemudian entah sampai kapan akan tiba waktunya, kamu  dengan senang hati membalasnya.

Aku tentu saja bisa terus berusaha menemanimu kapan saja, meskipun kamu terlihat tidak terlalu menyukainya. Sampai kemudian entah di momen yg ke berapa, kamu mulai merasa lebih baik menerima kehadiranku.

Aku... tentu saja bisa dengan setia terus memupuk perasaan cinta kepadamu, meski aku tidak pernah tahu apakah kamu akan menjadi sinar mentari yang mampu menghangatkan setiap jengkal perasaanku agar tak pernah layu.

Aku bisa saja terus memperjuangkanmu sampai tidak ada lagi kata menyerah yang bisa kuucapkan..

Kesalahan Pertama dan Terbesar

Kita begitu piawai membicarakan masa depan seolah-olah kita benar-benar mengetahuinya. Tentang seperti apa konsep rumah tangga yang akan kita bangun, tentang berapa jumlah anak kita nanti, tentang bagaimana caranya mendaur ulang bahagia yang kita ciptakan setiap hari, juga tentang seperti apa rupa kita ketika tua. Kita membicarakannya dengan begitu antusias. Tertawa setiap kali pembicaraan kita sampai pada imajinasi tentang gigimu yang hanya tersisa dua, atau membayangkan rambutku yang mulai memutih dan hanya tersisa beberapa helai saja. Kita benar-bebar gila saat mengkhayal tentang masa depan. Kita gila karena kita sedang jatuh cinta. Kita begitu detail membicarakan masa depan sampai-sampai kita lupa satu hal, bagaimana jika pada akhirnya kita tidak ditakdirkan bersama? Ini kesalahan yang pertama sekaligus yang terbesar.

kita bahkan tidak mempersiapkan diri seandainya salah satu dari kita memutuskan pergi. Atau mungkin hanya aku saja yang lupa mempersiapkannya.

Saat Kita Menemukan Bahagia Sendiri-sendiri

Saat aku menulis ini, mungkin kamu sudah bahagia sekarang. Menemani buah hatimu yang lucu itu, atau sedang menyiapkan sarapan pagi yang sempurna untuk dinikmati bersama pria yang saat ini paling kamu sayangi.

Saat aku menulis ini, mungkin saja kamu sudah benar-benar lupa, bahwa aku pernah ada di sepersekian kali putaran waktu dalam hidupmu untuk menemanimu, memenuhi isi kepalamu dengan memori 'tentang kita' yang mungkin saja sudah terdelete sempurna atau setidaknya tertumpuk dengan memori baru dengan seseorang yang bukan aku lagi.

Tidak apa, memang begitu seharusnya. Saat kamu bersama kebahagiaanmu. Aku pun sudah menemukan kebahagiaanku sekarang. Aku malu sekali jika mengingat hari itu, hari di mana aku mendapati betapa keras kepalanya diriku, merasa yakin sekali bahwa tanpamu tidak akan ada lagi bahagia. Bahwa jika bukan bersamamu, apalah artinya bersama dengan yang lain. Dan mengklaim, bahwa hanya kamu satu-satunya di dunia yang bisa membuat hatiku jatuh hingga tak ingin kuambil lagi. Hanya kamu satu-satunya yang akan kucintai tanpa pernah selesai.

Seandainya Saja..

Dia adalah seseorang yang pertama kali mengucapkan kepadaku "selamat pagi, kamu. Ayo bangun, jagoan!" Dan juga yang rutin setiap malam mengatakan "selamat malam, tuan. Selamat tidur ya. Semoga tidurmu nyenyak. Aku berharap aku ada di sana, di tiap episode mimpi indah yang kauperankan. Bersamaku tentu saja". Kalimatnya, cukup membuatku tersenyum sendirian

Dia adalah seseorang yang gemar memberiku kejutan-kejutan. Selalu menyenangkan mendapati dirinya mengetuk pintuku dengan menyodorkan black forest yang selalu kusuka. Sesekali, dia pernah membuatkan nasi goreng telur dadar padahal aku masih tertidur lelap. Lalu dengan jahilnya ia membangunkan dengan mengagetkanku sampai kemudian aku terbangun kesal, tetapi tidak jadi marah karena ia menyogokku dengan nasi goreng lezat buatannya.

Sebelum Sejauh Matahari, Kita Pernah Sedekat Nadi



Aku rindu kamu yang dulu.
Iya, yang dulu merajuk ketika aku lupa menghubungimu. Kadang kesibukan membuat aku lupa meneleponmu, mengirim whatsapp atau BBM. Tetapi tidak sampai membuatku lupa untuk mencintaimu. Itu yang tidak kamu tahu.

Aku rindu kamu yang dulu.
Yang diam-diam maupun secara terang-terangan mencari perhatianku. Tidak masalah, momen itu justeru yang selalu kutunggu. Ketika kamu bertanya sedang apa? Sudah makan? Sibuk apa hari ini? bisa ketemuan nggak? Adalah rentetan pertanyaan basa-basi namun efeknya selalu membuatku senang tak terbilang.

Kalau saja Ada Kamu

Meski tanpa kamu, aku masih bisa menikmati soto ayam kesukaanku dengan lahap hingga terasa begitu mengenyangkan setelah menghabiskannya.

Meski tanpa kamu, aku masih bisa menonton Indonesia Lawak Klub hingga tertawa sampai berurai air mata. Menikmati kelucuan yang tersaji ditemani secangkir kopi hitam, lalu menyeruputnya dengan penuh ketenangan.

Meski tanpa kamu, bahkan aku masih bisa bepergian, mendaki gunung, menyusuri pantai, dan ke mana saja mengitari tempat yang aku suka sampai semuanya terasa sangat memuaskan.

Setidaknya Aku Pernah


    Aku bahagia, teramat bahagia meski kita tidak pernah benar-benar bersama.
Setidaknya aku pernah di sampingmu, menemanimu bercerita berlama-lama. Setidaknya aku pernah berjalan bersisian denganmu untuk menuju tempat yang sama, berbicara sepanjang jalan hingga tak terasa yang kita tuju telah ada di depan mata.

    Aku pun bahagia, bahkan efek bahagianya masih terasa hingga hari ini. ketika aku pernah membuatmu tertawa lepas saat aku menggodamu sambil bercanda. Setidaknya aku pernah membuatmu tertawa sesenang itu. Setidaknya aku pernah menciptakan satu hari spesial untukmu waktu itu. Yang paling penting dari itu semua, setidaknya aku pernah tahu satu hal tentang perasaanmu kepadaku ; kamu mencintaiku saat itu.

    Kamu mungkin tidak akan datang lagi, sekarang atau pun nanti. Aku pun harus mengikhlaskan kamu pergi sambil berusaha terus memperbarui hati. Tetapi untuk urusan yang satu ini, aku masih terbata-bata melakukannya. Bagaimana mungkin aku mudah melakukannya? Apalagi saat sedang sendirian, pasti ingatan tentangmu tiba-tiba mengunjungi kepala. Anehnya, peristiwa seperti ini selalu saja menimbulkan efek yang membuatku tersenyum begitu saja.

Memorable Moment with Mei


Kamu apa kabar? Iya kamu, Mei. Masihkah kamu baik-baik saja di sana? Atau justeru semakin baik setelah tidak bertemu denganku lagi.  

Aku mengerti, Mei. Sudah bukan waktunya lagi aku berbicara tentang rindu, cinta, dan segala luapan perasaan kepadamu. Aku juga paham, sungguh sangat paham bahwa sebaiknya aku tak lagi memikirkanmu, bahkan hanya untuk sekadar mengingatmu sesekali. Tetapi, Mei. Sejujurnya aku kangen kamu.

Iya. Aku pernah berusaha sekuat tenaga membunuh segala kenangan indah yang pernah kita lalui berdua. Aku sudah menyibukkan diri dengan melakukan apa saja. Sudah nongkrong bersama teman-teman. Sudah juga mendaki gunung dan melakukan apa saja yang sekiranya bisa mendelete ratusan gigabyte memori tentangmu. Tetapi, Mei. Aku tak bisa terus berpura-pura mampu melupakanmu. Kadang, saat aku sedang minum kopi hitam sendirian, aku teringat kita sedang ngobrol berdua. Saat aku melewati kedai favorit kita, tiba-tiba aku teringat kita pernah menghabiskan waktu di sana. Aku memesan cappuccino dan kamu memesan pancake durian kesukaanmu. Di kedai itu, kita bercerita apa saja, menertawakan apa saja. Bercengkerama dalam balutan senja yang memesona.  Satu yang kemudian kusadari, setiap kebersamaan denganmu entah kenapa secara otomatis terekam di kepala. Memang benar apa yang banyak orang katakan, kita akan sulit melupakan momen istimewa bersama orang yang spesial. Apalagi jika momen itu istimewa karena kita sedang jatuh cinta. Dan pendapat itu benar sekali. Semakin aku berusaha melupakanmu, semakin banyak memori manis yang kuingat bersamamu. Seperti ingin menuju ke barat, tetapi langkahku malah asyik ke arah timur.

Hingga Akhirnya Ada Dia



Aku sudah lupa bagaimana rasanya menunggu seseorang di depan pintu rumahnya. Berdiri dengan sabar, sambil berharap ia keluar dengan anggunnya, untuk kuajak pergi bersama. Menggandeng tangannya, yang efek bahagianya merembet sampai ke hati.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya menatap mata seseorang, kemudian ia balas menatap dengan tatapan penuh arti. Lalu setelahnya, kami sama-sama saling melempar senyum. Iya. Siapa yang tidak tersenyum begitu saja jika dihujam tatapan seperti itu?

Aku sudah lupa tentang suara merdu dari seberang telepon yang berbunyi, “selamat pagi, kamu. Udah sarapan? Sarapan apa hari ini?”. seseorang yang seolah tidak ada lelahnya memberi perhatian, pagi, siang, malam. Seseorang yang selalu berusaha memastikan, –aku tetap baik-baik saja.–

Aku sudah lupa rasanya berjalan bersisian, bergandeng tangan, tanpa suara, namun ada perasaan yang sangat menyenangkan di dada.

Yang Membuatmu Nyaman, Belum Tentu Mencintaimu



            Aku paham, bagaimana bahagianya kamu saat pergi bersamanya. Setelahnya, kamu bercerita padaku bahwa baru saja dia mengajakmu pergi entah kemanalah yang tentu saja berhasil  membuatmu berbinar bahagia. Aku pun mengerti, bagaimana menyenangkannya perasaanmu saat bisa berlama-lama berbincang apa saja dengannya. Karena yang aku tahu, dia selalu bisa membuatmu tertawa. Dia selalu sukses  membuatmu lupa waktu, sehingga obrolan tiga jam hanya terasa seperti lima menit saja. Aku tahu. Tahu semua limpahan perasaanmu kepadanya. Kau mencintainya, bukan? Dia yang menurutmu baik hati, dia yang katamu selalu bisa membuat suasana nyaman, dan dia yang memang sudah membuat hatimu jatuh ke dalam dekapannya. Dari mana aku tahu semuanya? Tentu saja dari ceritamu, dari binar matamu, dari gerak-gerik sikapmu, hingga dari suara hatimu yang bisa kutangkap.

Untukmu dan Untukku


Ini untukmu, Mei…
Yang pertama kali kutemukan di sana. Lalu berkenalan, berbicara sebentar, hingga akhirnya akrab hanya dalam hitungan menit.

Ini untukmu, Mei…
Yang setelah itu mengisi hariku lewat momen-momen apa saja yang kita lalui bersama-sama. Yang tentu saja selalu membuatku merasa senang bukan kepalang saat menjalaninya bersamamu.

Ini untukmu, Mei…
Yang diam-diam membuat hatiku jatuh hingga tak ingin kuambil lagi. Tentu saja karena senyummu itu, perhatianmu itu, sikap menyenangkanmu itu, semuanya. Ada saja tindak-tandukmu yang membuatku tidak bisa tidak mencintaimu.

Ini untukmu, Mei…
Yang selalu membuatku bahagia karena hal-hal kecil saja. Melihat namamu di layar handphone-ku misalnya, saat kamu menelepon atau  mengirim pesan BBM untuk memberitahu kabar, untuk mengurai cerita, atau untuk sekadar obrolan biasa saja. Yang semuanya itu selalu menghadirkan perasaan hangat di dada.

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme