Sebelum Sejauh Matahari, Kita Pernah Sedekat Nadi



Aku rindu kamu yang dulu.
Iya, yang dulu merajuk ketika aku lupa menghubungimu. Kadang kesibukan membuat aku lupa meneleponmu, mengirim whatsapp atau BBM. Tetapi tidak sampai membuatku lupa untuk mencintaimu. Itu yang tidak kamu tahu.

Aku rindu kamu yang dulu.
Yang diam-diam maupun secara terang-terangan mencari perhatianku. Tidak masalah, momen itu justeru yang selalu kutunggu. Ketika kamu bertanya sedang apa? Sudah makan? Sibuk apa hari ini? bisa ketemuan nggak? Adalah rentetan pertanyaan basa-basi namun efeknya selalu membuatku senang tak terbilang.


Aku rindu kamu yang dulu.
Kamu Yang kerap menemaniku berbincang apa saja di waktu luang. Entah apa pun temanya, mulai dari yang paling ringan seperti tentang buku, film, kesibukan sehari-hari kita hingga yang paling berat seperti politik dan sastra. Kita sering berdebat, tentu saja, terutama tentang politik. Tetapi tidak pernah menjadi masalah, karena perdebatan itulah yang membuatku bisa menemanimu berlama-lama. Kita bisa menemukan momen menyenangkan di sana.

Aku juga masih sangat rindu, ketika dulu kamu gemar mengucapkan, “selamat pagi, kamu!. Udah bangun belum? Jangan kesiangan, jagoan!” yang setiap pagi terpampang di layar HPku. Bersamaan dengan itu, maka ada perasaan hangat di dalam dada kapan pun kamu menyapa.
Aku tahu, akan ada saatnya kamu bosan atau lelah menyapaku setiap pagi. Akan ada saat di mana perbincangan kita akan kehilangan momen menyenangkannya. Aku tak bisa terus-menerus membuatmu merasa nyaman berada di sisiku untuk terus berbincang berdua, untuk terus menemaniku bercerita, untuk terus bersama-sama mengejar bahagia yang sederhana. Kadang untuk terus bersama-sama, kita butuh sebuah pemahaman yang sama, bahwa dalam setiap kebersamaan yang kita rajut berdua, mestinya itu adalah cinta yang nyata, walaupun dikatakan atau tidak. Itu yang tidak kamu pahami, tentang perasaanku yang menurut persepsimu; aku tidak memedulikanmu lantaran tak terlalu sering memperhatikanmu.



.......................................................................................................selengkapnya ada di buku Cerah dalam Cinta............... segera rilis





Abdurahman El-Farizy
Ruang Inspirasi, Poris, Kota Tangerang
Selasa, 27 Januari 2015, 02:11 WIB

2 Response to "Sebelum Sejauh Matahari, Kita Pernah Sedekat Nadi"

  1. Unknown says:
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
    Unknown says:

    Seperti tenggelam didalamnya. Ringan, simple tapi dapat mewakili yang dirasakan setiap yang membacanya. alangkah menyenangkannya jika bisa dibukukan setiap tulisan2 ini. Ditunggu terbut bukunya.

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme