Seseorang Setelah Kamu

Saat masih bersamamu, aku seperti mengalami kejadian-kejadian yang ada di negeri dongeng. Selalu merasa lebih bahagia dari siapa pun, hingga aku bertanya dalam hati, apa benar ini dunia nyata? Tuhan mendesainnya indah sekali. Entah karena kamunya yang menjadi sebab, atau hatiku yang terlalu bahagia menerima kehadiranmu.

Saat masih bersamamu, aku tidak bisa tidak bahagia, termasuk ketika kamu dengan cekatan menyiapkan sarapan pagi untukku, termasuk ketika kamu menyodorkan minuman dingin persis di saat aku sedang merasakan haus yang amat sangat. Termasuk juga ketika kamu bersedia kuajak ke mana saja, lalu kita ciptakan momen-momen menyenangkan di sana, ngobrol berjam-jam di suatu kafe misalnya. Hanya hal-hal kecil, tetapi lebih dari cukup untuk membuatku merasakan senang tak terbilang.




Saat masih bersamamu, ada bahagia yang tak terjelaskan di sana. Bagaimana tidak? kadang pembawaanmu yang ceria itu, bisa membuat langit mendung menjadi cerah lagi. Ah, atau hatiku saja yang selalu cerah meski dalam kondisi langit mendung sekalipun, asal bersama kamu tentu saja. Kamu banyak bercerita, lalu aku mendengarnya, kemudian tertawa. Lalu gantian aku yang bercerita, dan kamu mendengarnya, kemudian lagi-lagi tertawa. Kita bercerita banyak hal, menertawakan banyak hal, dan menikmati setiap sepermili detik momen-momen mengesankan bersamamu dan menyimpannya untuk menjadi sebuah kenangan yang menyenangkan. Tetapi kenangan tetaplah kenangan, tidak akan menjadi masa depan.

Hemm... semua itu indah sekali. Apakah kamu masih menyimpannya? saat kita berjalan pada suatu malam yang sangat gelap. Kamu ketakutan, dan aku berusaha menenangkan. Tetapi malah aku yang kemudian menakut-nakutimu, lalu kamu menjerit lucu sekali, dan setelah itu kita malah tertawa bersama-sama karena setelah itu teriakanmu didengar oleh orang sekitar. Ini konyol, tetapi sangat menyenangkan. Hei.. lihat, begitu cara kita mengusir takut. Begitu cara kita menikmati momen apa saja menjadi terasa menyenangkan.

Dan karena satu dan lain hal, sebahagia apapun kita, seberapa pun menyenangkannya, Tuhan tidak menakdirkan kita untuk hidup bersama. Tidak masalah. Hanya jika memang Tuhan telah menyiapkan seseorang setelah kamu untukku, aku harap dia adalah sosok sepertimu; keriangannya, perhatiannya, kepeduliannya, sikap bersahajanya, persis seperti kamu. Astaga, aku baru ingat, tidak ada manusia yang 100% identik, bukan? Tetapi jika aku berkesempatan bernegosiasi dengan Tuhan, aku hanya butuh 77% saja seseorangku di masa depan itu seperti kamu. Itu sudah cukup, lebih dari cukup. Semoga saja..


Arian
Batuceper, 28 bulan Maret 2016. 15:00 WIB

0 Response to "Seseorang Setelah Kamu"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme