Kesalahan Pertama dan Terbesar

Kita begitu piawai membicarakan masa depan seolah-olah kita benar-benar mengetahuinya. Tentang seperti apa konsep rumah tangga yang akan kita bangun, tentang berapa jumlah anak kita nanti, tentang bagaimana caranya mendaur ulang bahagia yang kita ciptakan setiap hari, juga tentang seperti apa rupa kita ketika tua. Kita membicarakannya dengan begitu antusias. Tertawa setiap kali pembicaraan kita sampai pada imajinasi tentang gigimu yang hanya tersisa dua, atau membayangkan rambutku yang mulai memutih dan hanya tersisa beberapa helai saja. Kita benar-bebar gila saat mengkhayal tentang masa depan. Kita gila karena kita sedang jatuh cinta. Kita begitu detail membicarakan masa depan sampai-sampai kita lupa satu hal, bagaimana jika pada akhirnya kita tidak ditakdirkan bersama? Ini kesalahan yang pertama sekaligus yang terbesar.

kita bahkan tidak mempersiapkan diri seandainya salah satu dari kita memutuskan pergi. Atau mungkin hanya aku saja yang lupa mempersiapkannya.
Dan aku bisa apa saat semuanya benar-benar terjadi. Saat kamu memutuskan untuk mendelete bergiga-giga byte memori yang telah kita rajut berdua. Saat kamu menghapus konsep masa depan yang sudah kamu susun dengan matang bersamaku dan menggantinya dengan konsep baru bersama orang lain. Aku bisa apa saat kamu pergi untuk beberapa saat, lalu menemukan tempat singgah baru yang kemudian menjadikanmu pergi dariku selamanya?

Aku sudah mencoba melupakanmu dengan bekerja seharian agar ingatan tentangmu tak lagi hinggap di kepala. Tetapi tentu saja usahaku itu sia-sia. Jika sudah begini, apa lagi yang harus kulakukan? Menghabiskan waktu dengan nongkrong bersama teman-teman? Itu sudah. Membunuh sepi dengan membaca buku-buku atau mendengarkan musik? Itu juga sudah. Hanya saja, ketika sudah pulang dan sedang sendirian, entah kenapa ingatan tentangmu terlintas begitu saja di kepala, seperti sudah diciptakan secara otomatis dan selalu muncul ketika aku sedang tidak melakukan apa-apa.

Seharusnya saat kita membayangkan hal-hal indah, kita juga perlu membayangkan bagian yang terburuknya, agar saat kita terluka, kita tahu bagaimana cara mengatasinya. Agar ketika salah satu dari kita pergi, yang ditinggalkan bisa tetap baik-saja. Seharusnya memang seperti itu. Maka kesalahan yang pertama dan terbesar ini, semoga tak terulang lagi.

Arian. Poris, Tangerang. Sabtu 19 September 2015, 20:07 WIB.

0 Response to "Kesalahan Pertama dan Terbesar"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme