Untukmu dan Untukku


Ini untukmu, Mei…
Yang pertama kali kutemukan di sana. Lalu berkenalan, berbicara sebentar, hingga akhirnya akrab hanya dalam hitungan menit.

Ini untukmu, Mei…
Yang setelah itu mengisi hariku lewat momen-momen apa saja yang kita lalui bersama-sama. Yang tentu saja selalu membuatku merasa senang bukan kepalang saat menjalaninya bersamamu.

Ini untukmu, Mei…
Yang diam-diam membuat hatiku jatuh hingga tak ingin kuambil lagi. Tentu saja karena senyummu itu, perhatianmu itu, sikap menyenangkanmu itu, semuanya. Ada saja tindak-tandukmu yang membuatku tidak bisa tidak mencintaimu.

Ini untukmu, Mei…
Yang selalu membuatku bahagia karena hal-hal kecil saja. Melihat namamu di layar handphone-ku misalnya, saat kamu menelepon atau  mengirim pesan BBM untuk memberitahu kabar, untuk mengurai cerita, atau untuk sekadar obrolan biasa saja. Yang semuanya itu selalu menghadirkan perasaan hangat di dada.


Ini untukmu, Mei…
Yang membuatku selalu tersenyum begitu saja saat ingat segala hal tentangmu. Yang membuatku tak bisa melupakan saat makan siang bersamamu, hanya berdua. Lalu aku menatap dalam-dalam matamu, dan kamu menatapku dengan tatapan serupa sambil bertanya keheranan “kenapa sih, ngeliatin aku kayak gitu?”. Melalui mulut aku menjawab, “tidak apa-apa”. Sedangkan hatiku menjawab, “karena aku mencintaimu”.

Ini untukmu, Mei…
Yang dengan frekuensi pertemuan sesering ini. Yang dengan kebersamaan semenyenangkan ini. Membuatku sampai pada tahap ingin memilikimu. Yang sayangnya, belum juga kukatakan hingga detik ini.

Dan yang ini untuk aku…
Yang ternyata setelah menjatuhkan hati kepadamu, namun belum juga kamu tangkap. Hingga kebersamaan ini tak bisa menghadirkan perasaan yang sama di hatimu.

Ini untuk aku…
Yang setelah menyadari bahwa kamu memang bukan untukku. Kini sedang berjuang mati-matian melupakanmu, namun belum bisa. Yang sudah melakukan segala cara dengan menyibukkan diri dengan apa saja agar segala kenangan tentangmu menghilang dari kepala, namun masih juga gagal.

Ini untuk aku…
Yang kini mulai menyesali karena telah memiliki memori bersamamu. Jika akhirnya kita tidak ditakdirkan untuk bersama, inginku, harusnya dari dulu saja kita tidak pernah bertegur sapa. Dari dulu saja kita tidak pernah bertemu. Dari dulu saja kita tidak memulai percakapan-percakapan yang akhirnya membuat kita semakin dekat namun tidak sampai kepada kebersamaan yang abadi.

Ini untuk aku…
Yang semakin mengerti bahwa mencintaimu adalah sebuah kebodohan. Karena saat Aku menjatuhkan hati kepadamu, kamu malah menjatuhkan hati kepada pria lain. Yang membuatku harus mengajari diriku sendiri dengan kalimat, “Jika memang harus jatuh cinta, pastikan kamu jatuh di tempat yang seharusnya”.

Yang terakhir, ini untuk kita…
Alasan terlogis mengapa kita tidak bisa menua bersama adalah, aku mencintaimu luar biasa. Sedangkan kamu menganggap hadirku hanya sekadar saja.


-Abdurahman El-Farizy-

Poris, Batuceper, Kota Tangerang

Senin, 29 September 2014

22:47 WIB

0 Response to "Untukmu dan Untukku"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme