
12/10/2012 09:15:00 PM

Kamu dan secangkir kopi sastra
, Posted in
cinta
,
1 Comment
Dia membuatku cemas, mebuatku
bertanya-tanya, membuatku gamang. Ah, segala rasa gundah menggenapi seluruh
pikirku tentangnya.
Masih ingat betul, hari itu
dia memanggil namaku dengan lembut ketika mata kuliah Sistem Komunikasi
Indonesia berlangsung. Aku yang sibuk dengan urusanku kala itu, seketika diam
dan segera mencari asal suara itu. Ternyata suara itu berasal darinya, gadis
cantik yang baru ku tahu namanya beberapa jam setelah perkuliahan selesai.
Dan beberapa bulan kemudian,
setelah kejadian pertama dia memanggilku, lagi-lagi dia membuatku cemas. Kali ini
penyebabnya adalah lantaran menunggu jawaban atas sebuah pertanyaan yang
kuajukan padanya, “maukah kau pergi bersamaku?”. Lama sekali bagiku untuk
mendengar jawaban “ya” darinya, hingga pada akhirnya dia bersedia pergi
bersamaku. Bisakah kaubayangkan
sebahagia apa aku hari itu?. Tapi, kebahagiaanku tak berlangsung lama. kecemasan kembali menyeruak, bukan hanya cemas
tapi juga gugup. Bagaimana tidak, seumur hidup aku tak pernah menawarkan
seorang wanita dengan kata-kata “maukah kau pergi denganku?” apalagi kepada
wanita yang baru kukenal. Tapi sudahlah, ini adalah momen langka yang
seharusnya disambut dengan penuh antusias. Dan ini adalah bentuk prestasi atas
sebuah keberanian mengajak pergi seorang gadis cantik. Aku baru saja memenangkan satu hal, yakni
meyakinkannya pergi bersamaku saat banyak lelaki yang mungkin juga menawarkan
pergi bersamanya, dan tahukah kawan? Dia memilihku. Lalu mengenai
kegugugupanku, rupanya dia sangat piawai membawa suasana yang canggung ini
menjadi lebih hangat. Kegugupanku hilang seketika, karena seolah-olah aku pergi
bersama orang yang sudah sangat lama kukenal. Enam jam aku habiskan waktu bersamanya,
dengan Jupiter tuaku , ditemani rintik-rintik hujan yang barangkali tetesannya begitu dingin bagi
banyak orang, tapi tidak bagiku. karena
nuansa hangat bersamanya membuat dinginnya hujan menjadi lenyap sama sekali. Enam jam bersamanya, bagiku adalah enam jam
terindah yang pernah kualami.