BENTUK JURNALISTIK MEDIA CETAK




Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual. Verbal sangat menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata dalam rangkaian kalimat dan paragraf yang efektif dan komunikatif. Sedangkan visual menunjuk pada kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak atau hal-hal yang menyangkut segi perwajahan.[1] Materi berita yang ingin kita sampaikan kepada pembaca memang merupakan hal yang sangat penting.


Dalam perspektif jurnalistik, setiap informasi yang disajikan kepada khalayak, bukan saja harus benar, jelas dan akurat, melainkan juga harus menarik, membangkitkan minat dan selera baca (surat kabar, majalah), selera dengar (radio siaran), dan selera menonton (televisi). Karya jurnalistik harus benar dan dikemas dalam bahasa dan penyajian yang dapat menarik perhatian para pembacanya.

Media cetak di Indonesia berkembang sangat pesat dalam berbagai sisi. Selain mengikuti waktu terbitnya, baik setiap pagi atau petang, harian, mingguan, bulanan ataupun sesekali menerbitkan edisi khusus, perwajahan Koran pun mengalami perubahan. Begitu pula dengan tampilan majalah. Sejak reformasi di Indonesia, banyak majalah bermunculan. Mereka mengejar kebutuhan masyarakat akan berbagai informasi, dari informasi ringan maupun informasi berat..  di berbagai majalah berita, misalnya para wartawan bukan hanya melaoprkan peristiwa yang terjadi pada public tapi juga mengejar berbagai informasi yang tersembunyi. Para wartawan dikirim meliput keberbagai situasi public, perusahaan komersial atau pemerintahan. Para reporter ditugaskan melaporkan kejahatan, bisnis, dan yang lainnya. Dan didasari kebijakan redaksi dan perusahaan yang baik, ditujukan untuk menerbitkan berbagai majalah dengan masing-masing spesifikasi target para pembacanya.




1.      Surat Kabar
Teknologi elektronik yang memasok televisi hampir di setiap rumah di dunia barat, ikut mendorong perkembangan proses percetakan surat kabar. Kehadiran televisi membuat permunculan Koran-koran yang dibagikan secara gratis. Iklan telah menutup biaya produksi percetakan surat kabar tersebut. Waktu terbitan surat kabarpun telah bervariasi, ada surat kabar harian dan mingguan, ada surat kabar pagi atau sore. Serta sasaran distribusinya ada yang hendak menjangkau beberapa ratus penduduk pada sebuah kota kecil dan ada pula yang memasok keseluruh rakyat pada sebuah negara, bahkan untuk seluruh orang di dunia sebagai “pasar” internasional.
Sebuah surat kabar dinilai berbeda karena kesegaran berita yang disampaikan, karakteristik headline-nya, dan keanekaragaman liputan yan menyangkut berbagai topik isu dan peristiwa. Ini sangat terkait denagn kebutuhan para pembacanya, baik dari sisi menarik informasi yang diinginkan oleh pembacanya, dari surat kabar yang ingin dilangganinya. Fungsi surat kabar pun bukan sekedar pelapor kisah-kisah atau kejadian orang seorang.
Setiap orang memiliki hak untuk megetahui segala pernak-pernik kejadian. Karena, dari bekal informasi itulah, setiap orang dapat turut berpartisipasi di dalam kehidupan masyarakat. Untuk mendapatkan secara kepastian informasi, setiap orang membutuhkan wartawan surat kabar, yang bertugas sebagai wakil masyarakat untuk mencari dan memberi tahu tentang segala perisiwa yang terjadi dan dibutuhkan oleh masyarakat. Karena wartawan bertanggung jawab pada kebutuhan masyarakat akan informasi yang ada di lingkungannya.
Perkembangan surat kabar menurut Encyclopedia Britannica sendiri bisa di lihat dari tiga fase.[2]
Pada fase pertama yaitu para pelapor yang megawali oenerbitan surat kabar yang muncul secara sporadic dan secara gradaual kemudian menjadi penerbitan yang regural yang teratur waktu terbit dan materi pemberitaan serta khalayak pembacanya. Perkembangan masyarakat akhirnya membuat pertumbuhan surat kabar menjadi institusi penerbitan mapan yang diakui masayakat.
Fase yang kedua yaitu pertumbuhan kemampuan jurnal-jurnal regular yang masih rentan terhadap berbagai tekanan masayarakat. Penyensoran terhadap berbagai subyek materi informasinya kerap diterima surat kabar. Setiap pendirian surat kabar mesti memiliki izin dari berbagai pihak yang berkuasa.
Fase ketiga yaitu masa penyensoran telah tiada namun berganti dengan berbagai bentukan pengendalian. Kebebasan pers memang telah didapat. Berbagai pemberitaan sudah leluasa disampaikan. Tetapi, system kapitalisasi industry masyarakat kerap jadi pengontrol. Di lakukan antara lain melalui pengenaan pajak, penyuapan dan sanksi hukum yang di lakukan kepada berbagai media dan pelaku-pelakunya. Berdasarkan itulah kemandirian surat kabar ditentukan dalam masyarakat.
           
2.       Majalah
Perkembangan majalah memiliki beberapa tahapan menurut Encyclopedia Britannica.[3][3]
A.    Abad ke-17
Pada masa Cina kuno pernah di terbitkan sesuatu yang menyerupai majalah, tapi majalah yang kita kenal saat ini baru di kenal semenjak ditemukannya mesin cetak di Barat. Awalnya mesin cetak tersebut di gunkan untuk membuat pamphlet, selebaran, buku-buku cerita dan kalender. Lalu secara bertahap disalurkan untuk mencatak terbitan regular dengan mengumpulkan berbagai macam bahan yang ditujukan untuk menyalurkan kepentingan masing-masing. Dan pada akhirnya majalah menempati posisi di antara buku dan surat kabar.
Jenis majalah yang kebih ringan isisnya, atau berkala hiburan, pertama kali terbit pada tahun 1672, didirikan oleh seorang penulis yang bernama Jean Donneau de Vinci.
B.     Abad ke-18
Perkembangan di Inggris, di tandai dengan keadaan masyarakat yang telah meningkat kemampuan “melek-huruf” khususnya di kalangan perempuan. Di tambah menggejalanya kesadaran masyarakat akan hal-hal baru. Majalah member kebutuhan akan hal itu dan menampakkan kemapana oleh karenanya. Di Inggris kemapanan penerbitan majalah di pengaruhi oleh tiga essay periodicals (esai-esai berkala) yakni terbit seminggu tiga kali dan sebagai harian.

C.    Abad ke-19
Di awal terbitannya, berbagai majalah didesain hanya untuk kalangan terbatas. Sejak tahun 1830-an, bermuncullah majalah-majalah berharga murah, yang ditujukan kepada public yang lebih luas. Awalnya majalah ini menyajikan materi-materi yang bersifat meningkatkan, mencerahkan, dan menghibur keluarga. Tapi pada akhir abad 18, berkembang majalah-majalah popular yang semata-mata menyajikan hiburan. Di Inggris yang menjadi pelopor majalah jenis baru ini adalah Charles Knight. Dan muncul pula berbagai penerbitan majalah serially yang dipenuhi oleh gambar-gambar ilustrasi.
Pada akhir abad ke-19, penerbitan majalah mengalami peningkatan pasar. Masyarakat mendapatkan banyak informasi dan hiburan. Di AS, penerbitan majalah terjadi setelah ekspansi besar-besaran pasca perang sipil, juga berkat meningkatnya kecepatan pengiriman majalah lewat pos.
D.    Abad  ke-20
Pada awalnya iklan sangat di tentang oleh berbagai majalah. Alasannya menjaga nilai-nilai satrawi (kesusastraan) dipakai sebagai penguat penolakan. Di Inggris, ketika pajak iklan diturunkan, pada tahun 1853, dan para pemasang iklan mulai menyerbu, berbagai pengelola majlah di antaranya memasang argumen, “tugas dari suatu jurnal yang mandiri ialah melindungi sejauh mungkin untuk mudah percaya, meyakini, dan tak waspada pada kepintaran (tersembunyi)pemasang iklan”.
Di Amerika, banyak majalah juga seperti itu, misalnya memasang ketatnya aturan pada para pengiklan. Akan tetapi, iklan sudah menjadi tenaga industry media.  Penerbitan majalah, sebagian besarnya, termasuk medium yang di dorong oleh iklan.

Majalah berita Time, yang diterbitkan tahun 1923 oleh Briton Hadden dan Henry Luce. Majalah Time setiap minggunya menulis ulang berbagai berita untuk penduduk pedesaan. Ia menjiplak pemadatan (mengintisarikan) model majalah Digests dan majalah saku. Tetapi Time adalah yang pertama-tama menyajikan secara ringkas dan sistematis  segala berita di seluruh dunia. Ia memakai dasar pandangan bahwa “masyarakat menjadi tuna berita karena ketiadaan publikasi yang mau mengadaptasi kesibukan orang-orang yang hanya memiliki waktu sedikit untuk membaca berita”.
Semua itu mula-mula dikerjakan secara amatiran dan banyak kesulitan. Hadden dan Luce tidak punya banyak pengalaman saat mulai meringkas berita dari kumpulan surat-surat kabar harian. Tetapi usaha tersebut menanjak pasti, menemukan pasarnya di kalangan alumni perguruan tinggi yang jumlahnya membengkak.
Selain majalah berita, ada pula jenis pocket magazine (majalah-majalah saku), specialized magazines (majalah-majalah khusus), serta majalah-majalah scholarly (ilmiah), cultural (kebudayaan), dan literary (kesusastraan).
Di Indonesia, masyarakat mengenalnya lewat majalah intisari yang berisi berbagai feature ringan tentang berbagai kisah kehidupan. Majalah-majalah specialized mengisi pula perkembangan dunia penerbitan majalah. Di tengah peningkatan sirkulasi majalah-majalah umum, beredar pula majalah-majalah yang melayani minat-minat khusus masyarakat. Majalah jenis ini diklasifikasikan kedalam tema-tema materi professional (seperti perdagangan dan teknikal) dan jurnal-jurnal nonprofessional.
           
Sejumlah Kategori Majalah
            Berikut adalah kategori majalah, menurut Encyclopedia Britannica:
1.   Majalah umum.
Majalah ini berisi berbagai macam hal dan ditujukan tidak pada segmen tertentu. Contohnya adalah majalah Reader’s Digest atau intisari.
2.   Majalah-majalah berkualitas.
Majalah ini menawarkan artikel-artikel yang khusus. Kualitas artikelnya tidak bisa dipublikasikan dimana saja. Kualitas artikelnya tidak termasuk dalam kategori biasa-biasa saja. Contohnya adalah National Geograpic.

3.   Majalah penerbangan.
Sejenis majalah internal yang ditujukan kepada para penumpang pesawat terbang. Majalah jenis ini masih satu rumpun dengan majalah umum. Sifat internal majalah ini menyebabkan isi materinya disesuaikan dengan profil penumpang pesawat terbang, dikarenakan kebanyakan penumpang pesawat itu berprofesi sebagai pengusaha, maka umumnya artikel yang disajikan tidak terlepas dari tema bisnis dan hiburan.

4.   Majalah berita.
Merupakan satu bentuk publikasi yang mengombinasikan unsur aktualitas peristiwa mingguan dengan peliputan mendalam dan penulisan feature mingguan personal. Isi majalahnya kebanyakan ditulis dengan menggunakan pendekatan feature.
5.   Divisi majalah dalam Koran.
Ini adalah majalah yang diterbitkan sejumlah surat kabar kepada pelanggan mereka yang memiliki minat dan perhatian tertentu. Umumnya majalah seperti ini berisi sketsa sosok-sosok penduduk local, lembar-lembar peristiwa dan sejarah, renungan pemikiran, peristiwa budaya, tentang kebun  dan tentang kiat bisnis.
6.   Majalah kota. Berkembang seiring dengan matinya majalah-majalah bersirkulasi nasional. Yang ditawarkan majalah kota adalah artikel-artikel survival untuk menghadapi problematika kota besar, ditambah sajian-sajian entertaint.
7.    Majalah religius. Majalah ini memuat artikel-artikel keagamaan jenisnya cukup bervariasi mulai dari majalah bergaris keras-fundamentalis sampai yang bentuk lunak-kompromistis.
8.   Majalah pria.
Majalah khusus yang berbicara tentang hobi para pria seperti bertualang dan memancing.
9.   Majalah wanita.
Materinya mulai dari yang menawarkan tips-tips dapur hingga majalah yang diisi oleh aktivis feminis yang menuntut persamaan.
10.  Shelter magazine.
Ditujukan kepada khalayak yang menaruh minat pada hal-hal yang berkaitan dengan rumah, pertanaman, berkebun, dekorasi interior atau berbagai aktivitas rumah lainnya.
11. Majalah pertanian.
Berisi artikel yang berkisar pada topic pertanian atau peternakan, berkebun dan menanam bunga.
12. Majalah olahraga.
Tema berita maupun ulasan dan artikel berkisar pada olahraga dan aktivitas fisik di luar ruangan.
13. Jurnal perdagangan.
Karena ditujukan untuk kepentingan bisnis, artikelnya pun kebanyakan berkisar  soal bisnis dan ekonomi.


14. Majalah perusahaan.
Ada yang ditujukan untuk khalayak umum, ada pula yang diterbitkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan perusahaan menjalin kontak antar anggota. Para pengelolanya mendasarkan isinya kepada kepentngan public relations dari kelembagaan yang menerbitkannya.
15. Majalah fraternal-organisasi persaudaraan.
Diterbitkan untuk kepentingan organisasi. Berisi materi yang melibatkanpara anggota dalam proyek-proyek organisasi.
16.  Majalah opini.
Berisi berbagai artikel opini. Misalnya, majalah yang bervisi politik tertentu.
17.  Publikasi alternatif.
Cakupan isinya di mulai dari minat yang sempit dengan format sederhana, namun tak tertutup kemungkinan jika di sukai public dan berkembang menjadi besar.
18.  Majalah khusus lainnya.
Majalah ini meliputi pertumbuhan dari kebutuhan, minat dan perhatian masyarakat yang dari hari ke hari kian bertambah sesuai dengan peningkatan hidup keseharian yang dikehendaki masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2005
Septiawan Santana K. Jurnalisme Kontemporer, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005




[1] Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2005 hal 4-5.
[2] Septiawan Santana K. Jurnalisme Kontemporer, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005, hal 87
[3] Septiawan Santana K. Jurnalisme Kontemporer, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005, hal 89

0 Response to "BENTUK JURNALISTIK MEDIA CETAK"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme