• Imagen 1 Resensi Negeri 5 Menara
    Tidaklah sulit mengenali sebuah novel berkualitas. Sebuah logo pada sampul depan bertuliskan BEST SELLER dan berbagai opini positif dari para tokoh terkenal

Sebelum Sejauh Matahari, Kita Pernah Sedekat Nadi



Aku rindu kamu yang dulu.
Iya, yang dulu merajuk ketika aku lupa menghubungimu. Kadang kesibukan membuat aku lupa meneleponmu, mengirim whatsapp atau BBM. Tetapi tidak sampai membuatku lupa untuk mencintaimu. Itu yang tidak kamu tahu.

Aku rindu kamu yang dulu.
Yang diam-diam maupun secara terang-terangan mencari perhatianku. Tidak masalah, momen itu justeru yang selalu kutunggu. Ketika kamu bertanya sedang apa? Sudah makan? Sibuk apa hari ini? bisa ketemuan nggak? Adalah rentetan pertanyaan basa-basi namun efeknya selalu membuatku senang tak terbilang.

Kalau saja Ada Kamu

Meski tanpa kamu, aku masih bisa menikmati soto ayam kesukaanku dengan lahap hingga terasa begitu mengenyangkan setelah menghabiskannya.

Meski tanpa kamu, aku masih bisa menonton Indonesia Lawak Klub hingga tertawa sampai berurai air mata. Menikmati kelucuan yang tersaji ditemani secangkir kopi hitam, lalu menyeruputnya dengan penuh ketenangan.

Meski tanpa kamu, bahkan aku masih bisa bepergian, mendaki gunung, menyusuri pantai, dan ke mana saja mengitari tempat yang aku suka sampai semuanya terasa sangat memuaskan.

Siapa yang tidak jatuh cinta kepada Bapak Presiden?



Siapa yang tidak jatuh cinta kepada Bapak Presiden? Untuk menjenguk sang anak yang diwisuda, beliau rela menggunakan pesawat umum. Padahal, bisa saja beliau menggunakan pesawat kepresidenan yang mewah itu. Apa salahnya? Mengahdiri wisuda merupakan momen prestisius, bukan?

Siapa yang tidak jatuh cinta kepada Bapak Presiden? Mengenakan kemeja putih sederhana dengan ciri khas lengan tergulung layaknya sang pekerja yang begitu militan. Padahal, yang kami tahu, untuk kelas Presiden, pakaian necis dan jas mewah serta dasi mahal adalah ciri khas ideal untuk seorang Presiden pada umumnya.

Siapa yang tidak jatuh cinta kepada Bapak Presiden? Blusukan ke daerah mana saja yang terpencil sekali pun. Memanjat tower di pulau sebatik, menerabas banjir ibu kota dengan berjalan kaki menggulung celana, hingga berjibaku mencari korban longsor di tumpukan tanah bercampur lumpur di Banjarnegara.

Setidaknya Aku Pernah


    Aku bahagia, teramat bahagia meski kita tidak pernah benar-benar bersama.
Setidaknya aku pernah di sampingmu, menemanimu bercerita berlama-lama. Setidaknya aku pernah berjalan bersisian denganmu untuk menuju tempat yang sama, berbicara sepanjang jalan hingga tak terasa yang kita tuju telah ada di depan mata.

    Aku pun bahagia, bahkan efek bahagianya masih terasa hingga hari ini. ketika aku pernah membuatmu tertawa lepas saat aku menggodamu sambil bercanda. Setidaknya aku pernah membuatmu tertawa sesenang itu. Setidaknya aku pernah menciptakan satu hari spesial untukmu waktu itu. Yang paling penting dari itu semua, setidaknya aku pernah tahu satu hal tentang perasaanmu kepadaku ; kamu mencintaiku saat itu.

    Kamu mungkin tidak akan datang lagi, sekarang atau pun nanti. Aku pun harus mengikhlaskan kamu pergi sambil berusaha terus memperbarui hati. Tetapi untuk urusan yang satu ini, aku masih terbata-bata melakukannya. Bagaimana mungkin aku mudah melakukannya? Apalagi saat sedang sendirian, pasti ingatan tentangmu tiba-tiba mengunjungi kepala. Anehnya, peristiwa seperti ini selalu saja menimbulkan efek yang membuatku tersenyum begitu saja.

Memorable Moment with Mei


Kamu apa kabar? Iya kamu, Mei. Masihkah kamu baik-baik saja di sana? Atau justeru semakin baik setelah tidak bertemu denganku lagi.  

Aku mengerti, Mei. Sudah bukan waktunya lagi aku berbicara tentang rindu, cinta, dan segala luapan perasaan kepadamu. Aku juga paham, sungguh sangat paham bahwa sebaiknya aku tak lagi memikirkanmu, bahkan hanya untuk sekadar mengingatmu sesekali. Tetapi, Mei. Sejujurnya aku kangen kamu.

Iya. Aku pernah berusaha sekuat tenaga membunuh segala kenangan indah yang pernah kita lalui berdua. Aku sudah menyibukkan diri dengan melakukan apa saja. Sudah nongkrong bersama teman-teman. Sudah juga mendaki gunung dan melakukan apa saja yang sekiranya bisa mendelete ratusan gigabyte memori tentangmu. Tetapi, Mei. Aku tak bisa terus berpura-pura mampu melupakanmu. Kadang, saat aku sedang minum kopi hitam sendirian, aku teringat kita sedang ngobrol berdua. Saat aku melewati kedai favorit kita, tiba-tiba aku teringat kita pernah menghabiskan waktu di sana. Aku memesan cappuccino dan kamu memesan pancake durian kesukaanmu. Di kedai itu, kita bercerita apa saja, menertawakan apa saja. Bercengkerama dalam balutan senja yang memesona.  Satu yang kemudian kusadari, setiap kebersamaan denganmu entah kenapa secara otomatis terekam di kepala. Memang benar apa yang banyak orang katakan, kita akan sulit melupakan momen istimewa bersama orang yang spesial. Apalagi jika momen itu istimewa karena kita sedang jatuh cinta. Dan pendapat itu benar sekali. Semakin aku berusaha melupakanmu, semakin banyak memori manis yang kuingat bersamamu. Seperti ingin menuju ke barat, tetapi langkahku malah asyik ke arah timur.

Bahagia itu Sederhana


Bahagia itu sederhana
Sesederhana sapamu setiap pagi, yang menjadi pertanda bahwa kita akan terus bercengkrama sepanjang hari. Dan kita lupa menghentikan percakapan-percakapan ini sampai kemudian hari esok datang lagi.

Bahagia itu sederhana
Sesederhana kamu yang mengingatkanku, “jangan lupa makan, ya”.  Yang pesan itu kuartikan sebagai tanda bahwa kamu  menginginkan aku tetap baik-baik saja.

Bahagia itu sederhana.
Sesederhana kalimat yang kamu ucapkan padaku tadi malam, “selamat tidur, mimpi indah ya”. Yang efeknya membuat tidurku dipenuhi mimpi-mimpi menakjubkan ; mimpi tentangmu salah satunya.

Hingga Akhirnya Ada Dia



Aku sudah lupa bagaimana rasanya menunggu seseorang di depan pintu rumahnya. Berdiri dengan sabar, sambil berharap ia keluar dengan anggunnya, untuk kuajak pergi bersama. Menggandeng tangannya, yang efek bahagianya merembet sampai ke hati.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya menatap mata seseorang, kemudian ia balas menatap dengan tatapan penuh arti. Lalu setelahnya, kami sama-sama saling melempar senyum. Iya. Siapa yang tidak tersenyum begitu saja jika dihujam tatapan seperti itu?

Aku sudah lupa tentang suara merdu dari seberang telepon yang berbunyi, “selamat pagi, kamu. Udah sarapan? Sarapan apa hari ini?”. seseorang yang seolah tidak ada lelahnya memberi perhatian, pagi, siang, malam. Seseorang yang selalu berusaha memastikan, –aku tetap baik-baik saja.–

Aku sudah lupa rasanya berjalan bersisian, bergandeng tangan, tanpa suara, namun ada perasaan yang sangat menyenangkan di dada.

Yang Membuatmu Nyaman, Belum Tentu Mencintaimu



            Aku paham, bagaimana bahagianya kamu saat pergi bersamanya. Setelahnya, kamu bercerita padaku bahwa baru saja dia mengajakmu pergi entah kemanalah yang tentu saja berhasil  membuatmu berbinar bahagia. Aku pun mengerti, bagaimana menyenangkannya perasaanmu saat bisa berlama-lama berbincang apa saja dengannya. Karena yang aku tahu, dia selalu bisa membuatmu tertawa. Dia selalu sukses  membuatmu lupa waktu, sehingga obrolan tiga jam hanya terasa seperti lima menit saja. Aku tahu. Tahu semua limpahan perasaanmu kepadanya. Kau mencintainya, bukan? Dia yang menurutmu baik hati, dia yang katamu selalu bisa membuat suasana nyaman, dan dia yang memang sudah membuat hatimu jatuh ke dalam dekapannya. Dari mana aku tahu semuanya? Tentu saja dari ceritamu, dari binar matamu, dari gerak-gerik sikapmu, hingga dari suara hatimu yang bisa kutangkap.

Untukmu dan Untukku


Ini untukmu, Mei…
Yang pertama kali kutemukan di sana. Lalu berkenalan, berbicara sebentar, hingga akhirnya akrab hanya dalam hitungan menit.

Ini untukmu, Mei…
Yang setelah itu mengisi hariku lewat momen-momen apa saja yang kita lalui bersama-sama. Yang tentu saja selalu membuatku merasa senang bukan kepalang saat menjalaninya bersamamu.

Ini untukmu, Mei…
Yang diam-diam membuat hatiku jatuh hingga tak ingin kuambil lagi. Tentu saja karena senyummu itu, perhatianmu itu, sikap menyenangkanmu itu, semuanya. Ada saja tindak-tandukmu yang membuatku tidak bisa tidak mencintaimu.

Ini untukmu, Mei…
Yang selalu membuatku bahagia karena hal-hal kecil saja. Melihat namamu di layar handphone-ku misalnya, saat kamu menelepon atau  mengirim pesan BBM untuk memberitahu kabar, untuk mengurai cerita, atau untuk sekadar obrolan biasa saja. Yang semuanya itu selalu menghadirkan perasaan hangat di dada.

Maukah kamu berada satu shaf di belakangku?



            Aku tak tahu harus memulai dari mana. Saat kali pertama aku melihatmu, kemudian terjadi lagi pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya hingga sampailah kepada pertemuan yang entah kesekian ratus kali jumlahnya. Tetapi di pertemuan yang kesekian ratus kalinya ini aku ingin bertanya, maukah kamu berada satu shaf di belakangku? Tidak perlu tergesa-gesa untuk menjawab, aku masih punya banyak waktu untuk menunggu. Tentu saja, kamu pun punya banyak waktu untuk mempertimbangkan tawaranku ini. Maka agar urusan ini menjadi lebih mudah, boleh kan jika aku meyakinkanmu lewat beberapa kalimat agar kamu lebih mudah memutuskannya?
            Maukah kamu berada satu shaf di belakangku? Untuk shalat malam berdua, kemudian kamu mengaminkan setiap doa yang kupanjatkan. Lalu bersama-sama melafalkan surat cinta yang sejak lama diFirmankan oleh Tuhan kita sambil mentadabburi artinya serta belajar menjalaninya bersama-sama.
            Maukah kamu berada satu shaf di belakangku? Bukan untuk shalat saja, tetapi untuk saling membantu. Kamu membantuku menyiapkan perlengkapan kerjaku setiap hari, menyiapkan secangkir kopi panas setiap pagi dan menyambutku sepulangnya aku lelah bekerja. Aku pun akan membantumu melakukan banyak hal ; menyediakan bahuku sambil menemanimu bercerita untuk mengurai semua masalah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Memastikan kondisimu selalu dalam keadaan yang menyenangkan. Dan tentu saja, menjadi pelindung yang selalu kamu butuhkan.

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme