• Imagen 1 Resensi Negeri 5 Menara
    Tidaklah sulit mengenali sebuah novel berkualitas. Sebuah logo pada sampul depan bertuliskan BEST SELLER dan berbagai opini positif dari para tokoh terkenal

DAKWAH MELALUI POLITIK


A.       Peranan dakwah dalam dunia politik
             Tugas dan kewajiban dakwah (dalam pengertian luas) adalah tanggung jawab setiap Muslim kapan dan di mana pun, apa pun posisi, jabatan, profesi dan keahliannya. Ini karena dakwah adalah sebuah pekerjaan yang akan menghantarkan ketinggian dan kekuatan umat. Dakwah ini pula akan menyebabkan kebahagiaan yang hakiki, di dunia maupun di akhirat  (QS Ali Imran [3]: 104). Oleh karena itu, ketika kita menjadi pejabat, birokrat, pengusaha, politisi, kita pun harus menjadi dai, demikian pula dalam bidang-bidang lainnya. Meskipun demikian karena dakwah memerlukan pemikiran yang serius, sungguh-sungguh, dan perhatian yang penuh maka dalam implementasi dan pelaksanaannya, harus dilakukan oleh kelompok-kelompok orang dan umat, yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk melakukan dakwah, baik secara lisan, tulisan, maupun juga dengan tingkah laku dan amal perbuatan[1]. 

Enam jam Bersamanya


Dia membuatku cemas, mebuatku bertanya-tanya, membuatku gamang. Ah, segala rasa gundah menggenapi seluruh pikirku tentangnya. 
Masih ingat betul, hari itu dia memanggil namaku dengan lembut ketika mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia berlangsung. Aku yang sibuk dengan urusanku kala itu, seketika diam dan segera mencari asal suara itu. Ternyata suara itu berasal darinya, gadis cantik yang baru ku tahu namanya beberapa jam setelah perkuliahan  selesai.

Dan beberapa bulan kemudian, setelah kejadian pertama dia memanggilku, lagi-lagi dia membuatku cemas. Kali ini penyebabnya adalah lantaran menunggu jawaban atas sebuah pertanyaan yang kuajukan padanya, “maukah kau pergi bersamaku?”. Lama sekali bagiku untuk mendengar jawaban “ya” darinya, hingga pada akhirnya dia bersedia pergi bersamaku. Bisakah  kaubayangkan sebahagia apa aku hari itu?. Tapi, kebahagiaanku tak berlangsung lama. kecemasan kembali menyeruak, bukan hanya cemas tapi juga gugup. Bagaimana tidak, seumur hidup aku tak pernah menawarkan seorang wanita dengan kata-kata “maukah kau pergi denganku?” apalagi kepada wanita yang baru kukenal. Tapi sudahlah, ini adalah momen langka yang seharusnya disambut dengan penuh antusias. Dan ini adalah bentuk prestasi atas sebuah keberanian mengajak pergi seorang gadis cantik.  Aku baru saja memenangkan satu hal, yakni meyakinkannya pergi bersamaku saat banyak lelaki yang mungkin juga menawarkan pergi bersamanya, dan tahukah kawan? Dia memilihku. Lalu mengenai kegugugupanku, rupanya dia sangat piawai membawa suasana yang canggung ini menjadi lebih hangat. Kegugupanku hilang seketika, karena seolah-olah aku pergi bersama orang yang sudah sangat lama kukenal. Enam jam aku habiskan waktu bersamanya, dengan Jupiter tuaku , ditemani rintik-rintik hujan  yang barangkali tetesannya begitu dingin bagi banyak orang, tapi tidak  bagiku. karena nuansa hangat bersamanya membuat dinginnya hujan menjadi lenyap sama sekali.  Enam jam bersamanya, bagiku adalah enam jam terindah yang pernah kualami.

Ahli Teori Cinta

pernahkah anda menemukan tulisan semacam ini?
 

"Apakah engkau tahu apa yang disebut Ahli Teori Cinta?
ATC adalah orang yang hanya mengkhayalkan cinta yang sempurna, menyusun puisi cinta dalam angan, tidur setengah bangun dan bangun setengah tidur – melamunkan keindahan cinta, menangis mendengar lagu cinta, marah menonton sinetron pengkhianatan cinta,
TAPI
malas menjaga kebersihan diri, enggan merupawankan diri, suka menikmati kesedihan, rajin mengeluhkan ini dan itu, tidak bergaul, atau kalau bergaul – bergaul dengan mereka yang buruk perilaku, dan marah jika dinasihati untuk memantaskan diri bagi cinta yang lebih berkelas.
ATC, … janganlah memimpikan belahan jiwa yang sempurna, tapi terus hidup redup tanpa perubahan.
Engkau tak mungkin menjadi pantas bagi cinta yang seperti apa pun, jika engkau tak menjadikan dirimu PELAKSANA dari sikap dan perilaku cinta.
CINTA, BUKAN TEORINYA YANG PENTING, TAPI PRAKTEKNYA.
Jangan hanya melamunkan cinta, tapi berlakulah penuh cinta.
Jika engkau pantas bagi cinta, cinta akan meminangmu."

Kutukan Kecantikan Miss X



Selepas kuliah, saya bergegas ke Bintaro Plaza. Apalagi tujuan saya jika bukan mengunjungi  Gramedia.  Berlama-lama di Gramedia, memilah-milah buku lalu  membacanya sebelum membeli adalah cara terbaik mendapat buku yang benar-benar kita butuhkan. Dan menghabiskan banyak waktu di toko buku barangkali merupakan cara berharga dalam membuang waktu.
Dari sekian banyak buku yang saya temukan, terdapat  sebuah cerpen yang berjudul kutukan kecantikan Miss X. saya terpekur, mencoba-coba menerka bagaimana jalan ceritanya dan bagaimana  mungkin kecantikan bisa mendatangkan kutukan?. Ternyata   beginilah ceritanya :

Aku menuangkan satu sachet kopi dengan campuran dua sachet gula rendah kalori ke dalam gelas plastic medum size yang terisi air panas, lalu mengaduknya perlahan hingga tercampur sempurna. Saat ini arlojiku menunjukkan pukul setengah tujuh. Masih terlalu pagi menurut kelaziman untuk duduk sarapan di salah satu kedai fast food yang banyak berjejer di pelataran ruang tunggu bandara ini.

Hari ini, sahabat baikku Bagus akan segera datang dari Frankfurt, namun pesawat yang membawanya baru akan tiba satu jam lagi. Satu jam yang terasa lama jika digunakan untuk menunggu, namun entah mengapa aku menikmati satu jam menunggunya, sebenarnya aku memang membutuhkan suasana seperti ini, karena selama satu jam ini aku bisa mengingat dengan nyaman kenangan-kenangan bersamanya. Sambil menyeruput kopi aku menyalakan laptop dan membuka email  darinya. Dalam sebuah attachment kirimannya, aku melihat foto Bagus sedang tertawa lebar sambil memeluk istrinya yang menggendong  Bayi mereka. Bagus juga menjelaskan kenapa ia dan istri berkunjung  ke Jakarta, Dia bilang,  “istriku Anna, yang sratus persen asli jerman  ingin sungkeman dengan orang tuaku di sini”. Walaupun kutahu sebenarnya Anna ingin sekalian plesiran di Kota ini.

karena panik

Seorang pekerja bangunan yang sedang mengecat di lantai 4 tiba-tiba dikagetkan dengan seorang yang datang tergopoh-gopoh mendatanginya.
"Maman, Dedeh anakmu tertabrak di ujung jalan!"
Karena panik, pekerja itu memutuskan untuk loncat dari jendela lantai 4, apalagi dibawah gedung terdapat kolam yang cukup dalam. Lebih menyingkat waktu, pikirnya.
Melewati lantai 3, ia baru ingat bahwa ia tidak punya anak bernama Dedeh.
Melewati lantai 2, ia baru ingat bahwa ia tidak punya anak.
Melewati lantai 1, ia baru ingat bahwa ia belum menikah.
Byuuur...
Begitu mendarat di air, ia baru ingat bahwa namanya bukan Maman.



Humor dan Hikmah
Panik. Kata ini bisa membuat orang membuat kesalahan fatal dalam hidupnya.
Panik membuat kita membuat keputusan salah, membuat kita melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang.

Hei, Siapa yang mendorong saya?

Suatu hari seorang raja yang terkenal lalim, tiba-tiba mengumpulkan rakyatnya ‘katanya’ untuk memberi hadiah. Tumben-tumbenan ini raja mau kasih hadiah, begitu pikir sebagian besar rakyat.
Akan tetapi dasar raja lalim, sekalipun ia memberi hadiah ia tidak memberinya gratis.
“Wahai rakyatku, aku punya hadiah besar untuk kalian” kata raja.
“Horee…’
“Tapi ada syaratnya” raja menambahkan.
”Huuuu “ Rakyat berteriak dalam hati.
“Saya akan memberikan satu guci emas bagi sia yang berani berenang menyeberang sungai ini” kata raja, sambil menunjuk sungai lebar yang mengelilingi istananya dan direnangi olah ratusan buaya.
“Huh” Rakyat langsung lemas, tak bereaksi.
Melihat rakyat tidak ada yang beminat raja menambahkan.
“Jika tidak berminat seguci emas, boleh juga pilih hadiah menjadi gubernur ku di ibu kota” tambah raja menawarkan pilihan.

Berjuta Rasanya

Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya
terlanjur bersemu merah, dada berdegup kencang,
keringat dingin di jemari
bahkan sebelum sungguhan berpapasan.


Untuk kita, yang merasa tidak cantik,
tidak tampan, selalu merasa keliru
mematut warna baju dan pilihan celana
jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan

Untuk Kita yang hanya berani menulis
kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan
lewat puisi-puisi, dan berharap
esok lusa ia akan sempat membacanya

Jokowi The Phenomenon

Abdurahman Corner - Hari ini, tepatnya 20 september 2012 telah terjadi fenomena politik, fenomena kepemimpinan dan fenomena perubahan yang terjadi di Ibu kota Republik Indonesia, provinsi DKI Jakarta. Akhirnya pasangan Cagub Jokowi-Ahok dipastikan menang dalam pilkada yang diselenggarakan di seantero Jakarta setelah hasil Quickcount (hitung cepat) dari LSI menunjukkan angka 54,11% untuk pasangan tersebut mengalahkan pasangan Foke-Nara yang hanya meraup suara 45,89 %. sebelumnya, hasil pilkada putaran 1 juga menetapkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai pemenang mengalahkan 5 kandidat lain yang bersaing kala itu, namun untuk benar-benar menang dan menjadi DKI 1, perlu dilaksanakan Pilkada putaran 2 yang hanya menampilkan 2 kontestan yaitu pasangan nomor urut 1 dan 3.

Mimpi tentang Sebuah Dunia

saya mimpi tentang sebuah dunia
di mana ulama, buruh dan pemuda
Bangkit dan berkata, "stop semua kemunafikan".
"Stop semua pembunuhan atas nama apa pun"

Dan para politisi di PBB
sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras
buat anak-anak yang lapar di tiga benua
dan lupa akan diplomasi

Mengapa Yahudi Pintar

Bangsa Yahudi adalah salah satu bangsa yang menguasai dunia karena kecerdasan dan kelicikannya baik dari segi sains, bisnis, maupun teknologi.

Allah Ta’ala memang telah menganugrahkan kepada bangsa Yahudi suatu kelebihan berupa otak yang cemerlang. Dan sungguh sangat menarik mengetahui kenapa orang Yahudi begitu pintar dan mempunyai kelebihan dibanding bangsa-bangsa lain di atas dunia ini. Tentu saja dalam hal ini hanyalah sebatas kelebihan dalam hal urusan keduniawian…

Berikut ini sebuah artikel yang akan memaparkan sedikit sebab dari fenomena kelebihan mereka ini.

Marilah kita simak dengan seksama artikel di bawah ini, kemudian membahasnya bersama di kolom komentar,

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme