Kutukan Kecantikan Miss X



Selepas kuliah, saya bergegas ke Bintaro Plaza. Apalagi tujuan saya jika bukan mengunjungi  Gramedia.  Berlama-lama di Gramedia, memilah-milah buku lalu  membacanya sebelum membeli adalah cara terbaik mendapat buku yang benar-benar kita butuhkan. Dan menghabiskan banyak waktu di toko buku barangkali merupakan cara berharga dalam membuang waktu.
Dari sekian banyak buku yang saya temukan, terdapat  sebuah cerpen yang berjudul kutukan kecantikan Miss X. saya terpekur, mencoba-coba menerka bagaimana jalan ceritanya dan bagaimana  mungkin kecantikan bisa mendatangkan kutukan?. Ternyata   beginilah ceritanya :

Aku menuangkan satu sachet kopi dengan campuran dua sachet gula rendah kalori ke dalam gelas plastic medum size yang terisi air panas, lalu mengaduknya perlahan hingga tercampur sempurna. Saat ini arlojiku menunjukkan pukul setengah tujuh. Masih terlalu pagi menurut kelaziman untuk duduk sarapan di salah satu kedai fast food yang banyak berjejer di pelataran ruang tunggu bandara ini.

Hari ini, sahabat baikku Bagus akan segera datang dari Frankfurt, namun pesawat yang membawanya baru akan tiba satu jam lagi. Satu jam yang terasa lama jika digunakan untuk menunggu, namun entah mengapa aku menikmati satu jam menunggunya, sebenarnya aku memang membutuhkan suasana seperti ini, karena selama satu jam ini aku bisa mengingat dengan nyaman kenangan-kenangan bersamanya. Sambil menyeruput kopi aku menyalakan laptop dan membuka email  darinya. Dalam sebuah attachment kirimannya, aku melihat foto Bagus sedang tertawa lebar sambil memeluk istrinya yang menggendong  Bayi mereka. Bagus juga menjelaskan kenapa ia dan istri berkunjung  ke Jakarta, Dia bilang,  “istriku Anna, yang sratus persen asli jerman  ingin sungkeman dengan orang tuaku di sini”. Walaupun kutahu sebenarnya Anna ingin sekalian plesiran di Kota ini.


Aku pertama kali mengenal Bagus sebenarnya dalam situasi yang tidak menyenanngkan, saat itu kami sama-sama terjebak dalam “ruang dosa” ospek kampus baruku. Kami teraniaya bersama dan merasa senasib, dan pada saat itulah kami yang senasib ini dengan mudah menjadi sahabat baik. Walaupun beda fakultas kami sering betemu karena ternyata bagus tinggal di pondokan yang sama, hingga akhirnya kami memutuskan untuk tetap tinggal bersama di tempat tersebut sampai lulus hingga kemudian bekerja.

Tak  ayal, setiap malam kami mengisi kebersamaan dengan percakapan, diskusi, perdebatan hingga curhat.  Awalnya obrolan kami hanya seputar masalah perkuliahan, hobi dan kegiatan kampus. Tetapi semakin ke sini, filosofi hidup, cita-cita dan percintaan menjadi topik rutin yang kami bicarakan. Aku selalu mengambil inisiatif obrolan, dan bagus selalu menjadi pendengar yang baik. Bagiku Bagus adalah teman curhat terbaik karena ia bukan saja pendengar yang baik, tetapi juga ia adalah pemberi solusi yang cerdas. Aku menyukai prinsipnya, jalan pikirannya dan sikapnya dalam menghadapi berbagai persoalan.  Dalam banyak hal dia adalah orang yang cerdas, kecuali dalam satu hal, soal  wanita.
*****
Aku ingat betul, malam itu pukul Sembilan kurang sepermpat. Tanpa mengetuk pintu,  ia menyerbu masuk kamarku  laiknya serdadu perang tanpa salam.
“Gila, cantik banget Rik!”.  Ia bahkan belum membuka kaus kaki dan seragam  necisnya. Aku terpekur melihat ekspresi sumringahnya. Segera kututup laptopku dan mulai membalas kebaikannya. Menjadi pendengar yang baik.
“Siapa yang lu bilang cantik?”, tanyaku.
“lu pasti gak akan percaya. Hari ini kan gue dipindah tugas ke cabang Sudirman, terus gue naik bus 102. Lu tahu gak siapa yang gue temuin? Cewek, man.  Dan lu tahu?, nilainya sebelas dari nol sampai sepuluh.” Ia mengatakan sambil mengacungkan sepuluh jarinya  ­--tentu saja bukan sebelas.

Miss X, begitulah kami sepakat memanggilnya dalam obrolan kami selama seminggu ini. Karena selama seminggu ini,  Bagus  belum berani mendekatinya apalagi bertanya namanya. Aku yakin namanya tak sependek itu, tapi karena Bagus belum tahu namanya, terpaksa kami gunakan nama itu di percakapan rutin malam.

Dia adalah gadis berkerudung, berkulit putih, wajahnya seakan bercahaya,  memiliki bibir yang mungil, terdapat tahi lalat dibawah bibir tipisnya, memiliki dagu yang aduhai dan mata indah serta hidung bangir. Sebuah deskripsi sempurna untuk wanita yang hanya dilihatnya dalam sekilas. Aku tidak percaya, apa mungkin ada wanita sesempurna itu?. Benar-benar tidak percaya.  Meski rasanya mustahil mempercayai adanya gadis secantik itu, aku memutuskan untuk tetap antusias mendengarkan ceritanya. Dan selama tiga bulan berlalu, gadis itu sempurna mewarnai percakapan kami tiap malam.

Aku selalu mengolok-oloknya, tiga bulan ia mengenal Miss X namun belum juga mendatangkan kemajuan yang berarti, tetapi ia menerimanya dengan santai. Hingga pada akhir bulan aku mendengar Bagus menceritakan perkembangan baru.
“Gue tadi berangkat pukul setengah 6 pagi, lu tahu kan Rik?”
“iya gue tahu, tapi untuk apa lu berangkat sepagi itu, lu pindah ke cabang yang lebih jauh? bukannya lu biasa berangkat jam tujuh?”
“ nggak friend, Gue sengaja nggak nyetop bus di halte kampus, gue ke terminal dulu”.
Aku tahu maksud Bagus ikut ke terminal, tujuannya tidak lain agar bisa duduk di samping Miss X. dengan naik bus dari halte kampus, Bagus tidak pernah punya kesempatan duduk di samping Miss X karena kursi di sampingnya selalu terisi penuh. Jika ia naik dari terminal, Bagus punya kesempatan duduk di samping gadis itu. Lalu aku tanyakan padanya,
“apa lu berhasil duduk di sampingnya?”
“gue gak berani Rik.”
“Bah! Dasar pengecut”
****
Topik seputar Miss X terus berlanjut hingga enam bulan sejak pertama kali Bagus menceritakannya. Aku mulai Bosan dan kehilangan semangat lagi untuk mendengar ceritanya. Aku merasa, apa yang dialami Bagus selama ini sangat memalukan. Semakin menjijikan ketika Bagus mengatakan, “gue nggak bisa hidup tanpanya Rik”. Akan tetapi fakta bahwa ia begitu menyukai Miss X tak juga mampu membuatnya berani bertindak lebih. Aku sering mendengar alasan-alasan mengapa ia begitu pengecut di hadapan Miss X, tetapi tetap saja aku tak bisa terima. Aku sering menceritakan padanya tentang kisah suksesku menaklukkan hati Adinda dengan berdiri depan rumahnya berhari-hari, lalu soal Ratna yang kutaklukan dengan berpura-pura menyukai Hobinya membaca novel sebagai alasan agar aku bisa meminjam novel-novelnya dan tentu saja bisa lebih dekat dengannya. Puluhan referensi telah kulemparkan padanya tentang bagaimana melakukan PDKT, tapi semua menjadi percuma, Bagus tetap bertahan dengan kepengecutannya.

Bulan depan genap setahun malamku dihabiskan dengan membahas Miss X. Dan ketika aku mulai cemas malam-malamku akan dihabiskan setahun dengan obrolan mubadzir seputar Miss X, malam itu Bagus datang ke kamarku, mengabarkan soal lain, ia mendapat tugas belajar ke Jerman. Aku tercengang, bukan karena surprise terbebas dari obrolan seputar topik yang menjengkelkanku, tapi bagiku itu terlalu mendadak .
“nggak mendadak juga sih Rik, gue udah memikirkannya sejak enam bulan lalu, tapi gue nggak pernah sempat cerita ke lu.”
Hmmm, tentu saja tidak pernah sempat.
***
Semenjak itu, ia tidak pernah lagi bercerita seputar Miss X sampai ia berangkat ke Jerman. Obrolan seputar Miss X benar-benar tutup buku. Dalam email-email kirimannya ketika berada di jerman hanya sekali ia membahas Miss X. Dan itu dikirimnya saat ia mengenal Anna sebagai partner risetnya di Universitas Jerman enam bulan setelah ia berada di sana.

“Rik, setelah gue pikir-pikir, gue bukanlah cowok pengecut seperti yang lu olok-olokkan selama ini. Buktinya gue bisa dekat dengan Anna. Prosesnya begitu lancar. Gue rasa untuk mendekati Anna, nggak perlu tuh menggunakan tips-tips dari lu itu.”

“tapi kenapa waktu itu sangat sulit ya? Gue juga gak tahu persis kenapa. Ah, mungkin gadis itulah penyebabnya. Dialah masalahnya. Bagi gue, sosoknya terlalu kuat, Friend. Terlalu mempesona. Membuat gue begitu terdeterminasi. Gue pastikan Rik, laki-laki yang pernah mengenal dan memiliki perasaan suka dengannya juga mengalami hal yang sama seperti gue. Mungkin dia adalah kutukan atas sebuah kecantikan.”
Aku tersenyum sambil nyengir hambar sekaligus getir.
***
Sekarang Pukul delapan, pesawat yang membawa Bagus sudah mendarat lima belas menit yang lalu. Kopi dan cake yang kupesan juga sudah tandas semua. Saat ini mungkin Bagus sedang menggandeng istrinya sambil mendorong kereta bayinya. Aku segera meninggalkan fast food untuk bergegas menemuinya.

Apa yang pertama kali akan kulakukan pada sahabat terbaikku ini? Bersalaman dan Tersenyum lepas sambil memeluknya kah? Menyapa dan menanyakan kabarnya? Atau mengungkapkan segala kejadian  yang tidak ia ketahui selama ia di Jerman? Tiba-tiba aku berdiri di depan pintu keluar penumpang itu dengan perasaan yang tidak kukenali lagi. 

Ah, seandainya bagus tahu, hari ini tepat dua tahun lamanya aku juga tersiksa, sejak Sehari setelah aku mengantarnya ke bandara waktu itu. Seandainya Ia tahu apa yang kulakukan selama dua tahun belakangan.

Aku begitu terpukul melihat air mukanya yang sangat kecewa waktu itu. Satu-satunya penyebab kekecewaannya apalagi kalau bukan persoalan Miss X. aku tahu perasaannya pasti sangat perih karena tak pernah sempat menyapanya, bahkan tak pernah tahu siapa namanya. Karena itulah aku sangat benci dengan Miss X, begitu dendam dengan gadis itu. Harus ada “perhitungan” yang kubuat dengannya, karena dialah yang menyebabkan teman terbaikku murung dan terluka. Sehari setelah mengantarnya ke bandara, aku memutuskan untuk menemuinya di atas patas AC 102.

Namun yang terjadi hari itu, saat aku benar-banr bertemu dengannya di bus itu, aku mulai mempercayai apa yang kaukatakan Gus. Hingga hari ini genap sudah dua tahun aku “terpaksa” menaiki bus itu, padahal kau tahu persis rute bus itu dengan kantorku jaraknya bagai langit dan bumi. Selalu ada obsesi yang memaksaku untuk melirik kursi dekat jendela sebelah kiri baris kedua dari depan itu. Ada berjuta kebahagiaan saat aku memandang sekilas wajahnya yang begitu …..ah, ada sebuah ekstase di sana

Kau benar Gus, dia adalah kutukan sempurna atas sebuah kecantikan. Dan ternyata aku tak bisa melakukan lebih dari yang kaulakukan, bahkan hanya untuk sekedar mengatakan, “hai, aku Erik. Boleh kenalan?”………. tak pernah berani
####


Abdurahman El-farizy.. inspired by Tere Liye

0 Response to "Kutukan Kecantikan Miss X"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme