Dalam sebuah pesta pernikahan, selalu saja ada yang terluka diam-diam



        Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin bercerita kisah ini padamu, kawan. Namun entahlah, kenapa baru hari ini aku benar-benar bercerita. Yang menjadi muasal cerita adalah kisah tentang fajar dan Rembulan, muda-mudi yang mengalami persekongkolan semesta sehingga mereka saling mencintai yang entah di kemudian hari akan berakhir seperti apa.
***
            Dalam satu dimensi ruang dan waktu, di sebuah gedung megah tiga tahun silam.  Jakarta dengan segala hiruk-pikuk, dengan segala cita-cita yang menggantung di langit kota, juga dengan segala keriuhan yang meramaikan seisi kota. Dan di antara hiruk-pikuk itu, di antara jutaan cita-cita yang menggantung, serta di antara segala keriuhan itu, seorang pemuda berdiri di depan sebuah gedung megah yang terletak di tengah kota Jakarta. Berdiri dengan cemas, takut bercampur malu, berkeringat tangan di jemari. Aduhai, gadis itulah penyebabnya. Gadis itulah yang menjadi sumber kecemasan pemuda itu sekaligus menjadi muasal semua cerita.
***
            Di hadapan Fajar, seratus meter dari posisi Ia berdiri, terlihat seorang gadis yang begitu jelita dengan bola mata menawan yang juga menatap ke arahnya. Hari itu benar-benar hari yang beruntung sekaligus nelangsa bagi Fajar setelah edaran pandangannya  berhenti di satu titik dan diam di situ dalam waktu yang lama. Titik itu tentu saja seorang gadis bernama Rembulan. Fajar untuk kali pertama menemukan sosok jelita itu di antara ratusan peserta seminar ‘berburu meraih beasiswa luar negeri’. Seminar megah ini menyedot begitu banyak peserta yang berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia dan berbagai Universitas dengan tujuan yang sama, apalagi kalau bukan untuk  membekali diri dan mengintip peluang untuk kuliah di luar negeri. Maka dari sekian ratus peserta yang datang, mari fokuskan pembicaraan kita pada dua sejoli yang menjadi tokoh utama pada cerita ini, dialah Fajar, Mahasiswa UIN Jakarta yang menetap di Tangerang dan Rembulan, mahasiswi Universitas Andalas yang jauh-jauh datang dari Bukittingi hanya untuk menghadiri seminar ini.
Dari peristiwa inilah semua cerita dimulai. Pertemuan itu menjadi peristiwa beruntung sekaligus nelangsa. (mengapa beruntung sekaligus nelangsa, nanti kujelaskan)
***
            Saat semua rangkaian acara seminar selesai dilaksanakan, sejurus kemudian semua peserta bubar meninggalkan gedung megah itu. Di luar gedung, sebelum semuanya terlambat, Fajar dengan segenap keberanian bercampur gugup, malu dan berbagai perasaan yang bergemuruh dihatinya mencoba menghampiri si pemilik bola mata menawan itu dengan harapan bisa tahu siapa namanya, dan jika dinaungi keberuntungan, boleh jadi Fajar bisa mengetahui nomor teleponnya juga.  Astaga, Fajar memulai basa-basinya, ber-ehem sejenak lantas memulai pembicaraan. Lalu meluncurlah obrolan hangat itu, saling melempar kata, saling bertanya satu sama lain. Dan  beberapa kesimpulan penting yang didapat Fajar dari percakapan itu adalah, “Namaku Rembulan… Aku kuliah di Uniersitas Andalas… Aku  berasal dari Bukittinggi… Aku menghadiri seminar ini karena aku ingin sekali kuliah di Al-Azhar kairo…. Nomor telepon? baiklah, ini nomor telepon ku”. itulah beberapa kalimat yang terlontar darinya. Selebihnya, selain mendapat beberapa hal penting tentangnya, Fajar memperoleh kabar yang sangat baik. Gadis itu, meskipun menunjukkan ekspresi malu-malu saat berbincang dengan Fajar tetapi dia sangat bersahaja dan supel, sehingga meskipun baru pertama kali bertemu, Fajar bagaikan bertemu kawan lama. Dan aduhai, kabar baik lainnya, Gadis itu tak hanya memiliki bola mata menawan, tetapi juga bersuara lembut, dan boleh jadi gadis itu juga memiliki perangai yang menawan. Astaga, Fajar sukses berkenalan sekaligus mendapat nomor telepon gadis jelita itu. Padahal selama ini Fajar tak pernah seberani itu, terlalu pengecut, pemalu, gugup dan semacamnya. Gadis itulah penyebabnya. Si jelita itulah sumber segala keberanian Fajar.
            “Jika sudah sampai di Bukittinngi nanti, keberatan nggak kalau aku meneleponmu? Sejujurnya, aku tidak mau perkenalan ini hanya sepintas lalu”, Fajar melanjutkan pembicaraan dengan suara yang lebih meyakinkan. Kegugupannya, hilang seketika.
            “Sama sekali tidak, kau boleh menghubungiku kapan saja. Semoga meski berbeda kota, kita bisa menjadi teman yang baik ya”, Rembulan menimpali.
            “Tentu saja, terimakasih ya.. semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi, di kota ini atau dimanapun takdir  berkehendak. O iya, aku boleh tahu akun facebookmu?
            “Aku juga berharap bisa kembali ke kota ini lagi. Dan akan menjadi  sebuah keberuntungan andai bisa bertemu denganmu lagi. Soal akun facebook, ketik saja nama Rembulan Khairunnisa,  itu namaku di facebook. Jangan lupa di add ya!”
            “Dengan senang hati. Sekali lagi terimakasih ya. Jaga dirimu baik-baik.. sampai jumpa, semoga selamat sampai Bukittinggi”. Fajar menyalami Rembulan dan bergegas pergi meninggalkannya dengan hati berbunga-bunga.
            Beberapa bulan setelah perkenalan singkat  itu, Fajar mulai menelepon Rembulan yang berada di Bukittinggi sana, memulai percakapan dengan bertanya kabar. Selanjutnya saling follow twitter, Path, line dan jejaring sosial lainnya. Meski dalam jarak jauh, percakapan rutin terjadi setiap hari, mulanya sekadar bertanya kamu sedang apa? sudah makan? Sudah shalat? Bagaimana kuliahnya tadi?, hingga membicarakan filosofi hidup, cita-cita, hobi masing-masing, membahas topik apa saja  yang kemudian terus berkembang semakin intens. Hingga sampailah pembicaraan mereka pada topik yang sangat penting, yakni tentang kekaguman mereka terhadap satu sama lain hingga mengarah kepada cita-cita perasaan. Mulai ada perubahan sebutan dalam memanggil nama masing-masing pada percakapan mereka, yang awalnya hanya saling menyebut nama, kini Rembulan memanggil Fajar dengan sebutan ‘kak’, sedangkan Fajar memanggil Rembulan dengan sebutan ‘dik’.
            Dua tahun menjalin komunikasi melalui telepon, Facebook, twitter, chatting dan berbagai alat komunikasi lainnya,  sempurna sudah mereka saling mengenal satu sama lain. Saling mengerti tabiat masing-masing, hafal mati tanggal lahir masing-masing, kesibukan masing-masing dan tentu saja, mengerti dengan detail perasaan masing-masing. Entah apa nama hubungan mereka. Terlalu naïf menilai hubungan mereka sebagai Cinta dalam dunia maya. Cinta murahan yang seringkali dipraktikkan oleh sindikat penculik dan perdagangan manusia yang mengobral cinta melalui jejaring sosial kepada remaja baru gede. Lantas setelah remaja itu termakan rayuan muslihat, kemudian remaja itu diculik, dijual, bahkan diperkosa hingga tak segan-segan dibunuh. Meski hanya melalui jejaring sosial ataupun sebatas menghubungi lewat telepon, tetapi hubungan Rembulan dan Fajar tidak serendah itu. Bahkan jika dibanding pasangan muda-mudi yang selalu bertemu di malam minggu, saling mengucap gombal setiap kali bertemu, dan menghabiskan sepanjang hari dengan berpegangan tangan mesra, bersisian, hubungan Rembulan dan Fajar jauh lebih romantis dan jauh lebih intim, intim secara batin walaupun jauh dari kebersamaan fisik. Secara teknis, mereka memang terbentang jarak ribuan kilometer, tetapi aduhai, mereka dekat secara hati. Itulah yang membedakan mereka dengan pasangan lain yang dalam beberapa kasus saling bersisian, dekat secara fisik, tetapi hati mereka saling menjauh. Jangan tanyakan mengenai kepercayaan dan kesetiaan dari mereka berdua, juga jangan pernah bertanya soal komitmen kepada mereka. Karena lihat saja, Rembulan telah menolak empat kali lamaran yang datang dari lelaki yang jelas-jelas tak jauh dari tempat tinggalnya, yang jelas-jelas dekat secara fisik dan bahkan sangat jelas masa depannya. Dibanding Fajar yang tinggal ribuan kilometer dari bukittinggi, dibanding Fajar yang hanya bisa mengucap halo, mengirim rindu, dan menatap Rembulan dari kejauhan, hanya dari sebuah alat yang tak jauh dari telepon atau laptop. Tetapi beruntung sekali bagi Fajar, meski laki-laki lain puluhan kali berkunjung ke rumah Rembulan, berkali-kali melamar rembulan, serta berkali-kali juga menemui Rembulan, tetap saja, meski dalam maya, bahkan Fajar jauh lebih nyata di hati Rembulan. Bahkan Rembulan tak sedikit pun membiarkan laki-laki lain sebentar saja mengisi singgasana hatinya yang sudah nyaman diisi oleh seorang Fajar.
            Dan hubungan jarak jauh itu mulai menemui masalahnya mendekati tahun ketiga, ketika rutinitas percakapan itu mulai berkurang intensitasnya. Dari setiap hari, menjadi tiga hari sekali, kemudian seminggu sekali, hingga sempurna satu bulan sekali. Di malam ke sekian setelah perkenalan mereka pertama kali, Fajar bertanya melalui sebuah pesan dalam layanan Facebook, “kau kemana saja dik? Akhir-akhir ini, jarang sekali kau menyapaku, bahkan salam dariku pun jarang kaujawab. Tak bisakah kau tetap seperti dulu? Bertanya kabarku hampir setiap hari, menanyakan kesibukanku. Kau sering cerita tentang mimpi-mimpimu padaku, tentang harapanmu yang sebagian di antaranya kaubebankan kepadaku meski aku tak pernah merasa terbebani. Tentang harapan kita di masa mendatang, yakni membangun kebersamaan dalam senyata-nyatanya kebersamaan. Tetapi mengapa akhir-akhir ini kau malah terkesan menghindariku, menjauhiku. Aku tak pernah mempermasalahkan ragamu yang jauh dariku, karena memang kotaku dan kotamu terbentang jarak ribuan kilometer. Tetapi jika hatimu juga ikut menjauh, aku mulai khawatir, sungguh sangat khawatir. Kau tahu, Dalam hubungan yang terpisah oleh jarak ribuan kilometer, betapa pentingnya menjaga komunikasi?. Lantas jika tak ada lagi kabar yang kau sampaikan padaku, tidak ada lagi sapaan hangatmu, bagaimana mungkin aku bisa mengenalimu dengan baik. Maka, bantulah aku untuk tetap mencintaimu dengan baik, sebaik kau menjaga perasaanmu dari laki-laki lain untuk tetap memilihku. Dan, di akhir kalimat, aku ingin mengatakan, semoga kau selalu baik-baik saja di sana, semoga di sela-sela kesibukanmu meski sesibuk apapun, kau masih sempat menyapaku barang sebentar saja.” Send. Fajar membiarkan untaian kalimat itu melesat hingga sampai dalam dekapan Rembulan, di kota nun jauh di sana. Bukittinggi.
            Maafkan aku kak. Sungguh, aku tak bermaksud menghindarimu, apalagi menjauhimu. Aku tak pernah sanggup melakukannya. Hanya saja, akhir-akhir ini aku sangat sibuk, kak. Kau tahu bukan, saat ini aku sedang memantapkan hafalan Al-Quran, aku sedang Muraja’ah agar hafal dengan baik ayat demi ayat. Juga berbagai tugas kuliahku yang semakin banyak saja mendekati UAS. Maka terimakasih karena tak putus-putusnya mendoakanku, walau bagimu aku semakin menjauh darimu. Tapi percayalah, tak pernah sesenti pun aku menjauhimu. Itu hanya perasaanmu saja, ketakutan-ketakutan yang kau ciptakan sendiri. Baiklah, sesibuk apapun, aku akan berusaha menjawab salammu, menyapamu dengan sapaan paling hangat. Salam. Adikmu.” Kalimat itulah yang dituliskan Rembulan sehari setelah Fajar mengirim pesan.
            “Akhirnya kau menjawab pesanku, dik. Sungguh, aku sangat bahagia mendengar kau menyapaku lagi…hehehe, kau pasti sangat sibuk ya di sana?. Baiklah, seharusnya aku memang tak boleh terlalu sering mengganggumu. Itu hanya akan merusak konsentrasi hafalan Quranmu. Hanya akan mengganggu belajarmu. Dan bodohnya, aku berpikir yang tidak-tidak padamu, mencemaskan hal yang tak seharusnya dicemaskan, dan menuntutmu untuk selalu menghubungiku. Seharusnya kan tidak begitu. Maafkan aku juga ya dik. Sungguh, maafkan aku. Astaga, aku lupa satu hal yang sangat penting, satu hal yang sudah sangat lama tak pernah kutanyakan lagi padamu. Dan hari ini, izinkan aku bertanya hal itu sekali lagi, masihkah kau mencintaiku.” Balasan dari Fajar lagi.
            “jangan khawatir, kak. Dalam diam kumencinta, dalam diam kuberdoa. Kak, izinkan aku mencintaimu dalam diam, mencintaimu dalam senyap, hingga seberapa pun gaduhnya perasaanmu dan perasaanku, hanya mampu didengar oleh yang maha mendengar. Biarlah perasaan ini hanya menjadi rahasia antara aku, engkau dan Tuhanku.” Rembulan membalas beberapa jam kemudian.
            Sejak datangnya pesan itu, Fajar dan Rembulan tak pernah lagi berkirim pesan beberapa bulan lamanya. Rembulan sempurna menghilang setelah terakhir kali mengirim pesan itu. Menghilang dalam arti tak pernah lagi membalas pesan dari Fajar. Tak pernah lagi bisa di sms dan di telepon. Semua akses komunikasi untuk menghubunginya tertutup bagi Fajar. Hingga suatu hari, dalam kegamangan itu, dalam situasi yang membuatnya menjadi tak jelas, menjadi kabur, Fajar bertemu sosok lain yang pelan-pelan mengambil alih posisi nyaman Rembulan di hatinya.
            Di tengah terpuruknya komunikasi Rembulan dan Fajar, Fajar mulai berdamai dengan situasi gelisahnya selama ini, gelisah lantaran tak bisa lagi menghubungi Rembulan. Rupanya ada sosok lain yang menjadi penyebabnya, sosok yang belakangan memasuki kehidupan Fajar. Sosok yang perlahan namun dengan rambatan yang pasti menelikung hati Fajar dengan rasa simpati, lalu kemudian berubah menjadi ketertarikan. Sosok itu dikenal Fajar ketika Fajar sedang melakukan bakti sosial di sebuah panti asuhan. Sosok itu juga ambil bagian dalam kegiatan Baksos. Singkat cerita, mereka berkenalan, lalu akrab hanya dalam hitungan hari. Sosok itu, Ratna namanya. Ratna sempurna menggeser Rembulan dari singgasana hati Fajar, membuat Rembulan sedikit terlupakan.
            Kedekatan Ratna dan Fajar semakin serius saja. Ratna yang berusia setahun lebih muda dari Fajar serta-merta memanggil ‘kakak’ pada Fajar dalam obrolan sehari-hari mereka. “kak, terimaksih ya telah menemaniku jalan-jalan seharian ini. terimakasih juga atas buku yang kauberikan. Sungguh, akan kupastikan untuk selalu membacanya.” Kalimat yang diucapkan Ratna saat ia sampai di depan rumah sehabis jalan-jalan seharian bersama Fajar.
            “sama-sama Ratna. Bagiku, pergi bersamamu adalah sedikit waktu paling berkualitas dalam hidupku. Terimakasih karena telah bersedia pergi bersamaku, dengan sepeda motor tuaku”. Balas Fajar.
***
            Kedekatan Fajar dan Ratna terus berlanjut, namun ada sesuatu yang mengganjal di benak Fajar, semakin hari bayang-bayang Rembulan semakin kuat justeru pada saat Fajar dan Ratna semakin dekat. Fajar mulai menyadari, kedekatannya dengan Ratna selama ini tak lebih dari pelampiasan rasa sepinya, bahkan boleh jadi Ratna hanyalah pelampiasan kekecewaanya karena Rembulan tak pernah lagi menyapanya. Celakanya, saat Fajar mabuk kepayang dengan pesona Ratna, ia mengirimkan sebuah e-mail kepada Rembulan yang beberapa hari kemudian sangat ia sesali. Harusnya ia tak pernah mengirim e-mail itu.
“Assalamu’alaikum Rembulan, bagaimana kbarmu? Kabar imanmu? Juga kabar hatimu? Masihkah aku ada di sana, di lubuk hatimu? Dik., ada hal yang ingin kusampaikan padamu. Aku tidak berani mengirimimu pesan ini andai saja tak ada hal penting terjadi. 7 bulan yang lalu, aku berkenalan dengan seorang gadis, Ratna namanya. Pertemuan kami dimulai saat kami melakukan Bakti sosial di salah satu Panti asuhan. Seiring berjalannya waktu, kami mulai akrab, mulai sering telpon-telponan, bahkan beberapa kali aku mengantarnya pulang, karena kebetulan ia kuliah di kampus yang sama denganku. Perlahan namun pasti aku mulai mengaguminya. Tapi dibanding denganmu tentu dia tak sepadan denganmu. Dia bukan hafidzah, dia sholihah tapi mungkin kesholihahanmu jauh melampauinya. Dia pintar, tapi kamu sepertinya lebih pintar. Dia cantik dalam kesederhanaan dan kamu.. mungkin juga cantik tak terbantahkan. Hanya saja, DIA NYATA BAGIKU. Dia rupanya memiliki jiwa sosial yang tinggi, dia begitu ringan membantu sesama, begitu antusias memberi manfaat bagi orang banyak , begitu mencintai anak-anak yatim. Dan hari itu aku sadar bahwa aku telah mencintainya. Aku belum tahu bagaimanakah perasaannya terhadapku. Aku hanya tahu satu hal, yakni aku baru saja jatuh cinta lagi. Lalu bagaimana denganmu? Sepertinya terlalu naïf bagiku jika aku masih mengharapkanmu. Kau telah tumbuh menjadi wanita langit yang sulit kujamah. Sedangkan aku, hanyalah butiran pasir yang wujud di mana-mana. Kau adalah yang terindah, namun kau ghaib bagiku, hingga pada akhirnya kuputuskan untuk setia pada yang nyata. Padanya walau tak seindah dirimu. Dia memang bukan wanita sempurna, tapi setidaknya aku bisa sedikit membantunya mencapai kesempurnaan, karena saat ini langkahnya sedang berjalan ke arah sana. Aku juga bisa memastikan apakah dia membutuhkanku atau tidak, aku bisa merasakan tatapan teduhnya, senyum menawannya dan suara lembutnya. Bahkan aku bisa mengimami shalat maghribnya secara nyata. Dik , aku ikhlaskan kamu andainya kau menemukan pemuda yang terbaik untukmu. Aku tak layak kau tunggu karena banyak laki-laki yang lebih baik dan sempurna dariku. Aku juga mulai gamang dengan jarak di antara kita. Dan 1 hal yang kuinginkan darimu, jangan pernah menangis untukku ya, air matamu terlalu mahal jika digunakan untuk menangisi aku yang hina ini. maafkan aku, meski kau boleh membenciku tapi sedikit saja berikan maafmu utk pemuda yg paling sering mengganggu ketenanganmu. Mungkinkah kita bertemu di pintu Ar-Rayyan?, entahlah… semoga kabar ini tak mengusikmu sedikitpun.. tetaplah bahagia walau aku mungkin tak akan pernah nyata bagimu. Wassalamu’alaikum”. Send…..
            Dua minggu kemudian, balasan dari Rembulan akhirnya datang, Wa'alaikumussalam Ka, alhamdulillah aku baik2 saja, begitupun iman dan hatiku.. dan bagaimana kabarmu? kabar keimananmu? Aku ikhlaskan ke-islahanmu dri hatiku selama ini.. jika itu memang membuatmu bahagia ka, apalah makna manusia semu lagi fatamorgana ini, yang bermakna adalah yang nampak.. aku ridho atas dirimu, jagalah bidadri kecilmu karena Rabb kita telah mengabulkan permintaanmu... "wahai ILlahi yang Maha cinta, turunkanlah kekasih kecilmu ini dari ayunan qalbu yang membuai dan biarkanlah aku berlari memanjakan jemari kakiku di atas rumput lembut impian ini dan satukanlah aku dengan cintaku...." dan selain aku.... juga seluruh malaikat ikut mengamininya... dan baru ku tahu inilah ujung akhir harapku... sudahlah.. ka, hatiku diliputi rasa senang yang tak terkira bercampur tangis bahagia.. maafkan aku jika selama mengenalmu banyak salah yang ku perbuat,, salam manis untuk kekasih barumu disana.... pesanku cintailah yang nyata itu tetap karena Allah karena DIA AKAN SELALU ADA TUK MENJAGA namun ka meski aku ghaib bagimu, namun kau tetap wujud dalam diriku... syukran jazilan.
            Pesan balasan dari Rembulan bagaikan sebuah tamparan keras yang benar-benar menohok hati Fajar. Rasa bersalah, penyesalan, kesedihan semua bercampur jadi satu. Fajar tak pernah menyangka akan seperti itu balasan dari Rembulan. Fajar lupa, bahwa dalam diamnya Rembulan, Dalam heningnya komunikasi di antara mereka, dan dalam senyapnya gejolak perasaan Rembulan, Rembulan tak pernah berhenti mendoakan Fajar, tak pernah sedikit pun melupakan Fajar, juga tak pernah alpa mencintai Fajar. Mencintai dalam diam, barangkali menjadi cara Rembulan mencintai Fajar. Walau terbentang oleh jarak yang teramat jauh, tetapi sejatinya Rembulan sangat mencintai Fajar. Dan pengkhianatan kecil itu, telah menghancurkan segalanya. Ya, menghancurkan segalanya, termasuk kesetiaan Rembulan selama ini. akhirnya, Rembulan menerima lamaran seorang laki-laki yang telah datang lima kali untuk melamarnya. Resepsi pun di gelar beberapa minggu kemudian setelah lamaran diterima.
            Bagaimana dengan Fajar? Kabar pernikahan Rembulan akhirnya sampai juga di telinga Fajar. Hubungan Fajar dengan Ratna juga tak pernah terdengar lagi ketika Ia berterus terang mengenai perasaannya yang masih mencintai Rembulan. Apakah keadaan akan berubah? Nyatanya tidak, pernikahan Rembulan dengan Ustad Hilmanlaki-laki pilihan Rembulan– tetap dilaksanakan, bahkan Fajar menyempatkan untuk hadir. Memesan tiket pesawat Jakarta-Padang, lalu berganti-ganti angkutan umum hingga akhirnya sampai di sebuah gedung, tempat dilaksanakannya resepsi pernikahan Rembulan.
            Aduhai, betapa khidmatnya pernikahan itu. Betapa bahagianya dua mempelai yang berada dalam pelaminan. Tak henti-hentinya tawa mewarnai pesta pernikahan Rembulan dan Hilman. Senyum merekah para tamu serta semarak suasana yang menyempurnakan Pesta milik dua Insan yang akan membangun keluarga sakinah, Mawaddah dan Rahmah. Tak ada cerita lain selain kebahagiaan di sana. Namun lihatlah, di sudut gedung resepsi, terdapat seorang pemuda yang terlihat kusut, bertampang muram dengan raut-raut kesedihan, tergugu melihat peristiwa itu. Sebuah luka yang amat dalam lantaran melihat gadis yang begitu dicintainya menikah dengan orang lain. Luka yang menganga di antara riuhnya kebahagiaan dalam pesta.
***
            Hidup memang merupakan rangkaian pilihan dan keputusan. Hari ini Rembulan mengamalkannya dengan baik, memilih Ustad Hilman untuk menikah dengannya dan membuat sebuah keputusan untuk tidak lagi memberi tempat kepada Fajar. Keputusan yang terbilang singkat untuk mengakhiri cinta yang hebat, cinta dalam definisi jauh secara fisik namun dekat secara hati. Cinta yang mengharuskan kesetiaan dan kepercayaan sebagai penguat jarak. Namun setelah pengkhianatan kecil Fajar, apalah arti  kesetiaan hati Rembulan. Dan melalui sebuah pernikahan, Rembulan benar-benar memberi pelajaran, sekaligus luka yang barangkali lebih pedih dari apa yang Fajar lakukan  terhadap Rembulan.

***
            Kisah ini hanyalah fiktif, baik tokohnya maupun jalan ceritanya. Tetapi boleh jadi, luka diam-diam dalam sebuah pesta pernikahan itu benar adanya, adalah sebuah realita. Boleh jadi, dalam sebuah resepsi yang meriah dan penuh suka cita, ada satu-dua orang  yang merasa sedih atas resepsi itu, merasa disakiti, dikhianati  dan bertanya dalam hati, mengapa bukan aku yang menikah denganya? Mengapa dia yang kucintai menikah dengan orang lain ? Mengapa pernikahan ini mesti terjadi? Mengapa ini dan itu?.
            Tentu saja sebelum dua orang memutuskan untuk menikah, bukankah mereka memiliki masa lalu masing-masing yang boleh jadi dilalui bersama orang lain, juga boleh jadi pasangan pengantin ini pernah mengalami cinta dan dicintai oleh orang lain. Maka saat dua orang itu menyatu dalam sebuah pernikahan menjadi suami-isteri. Orang-orang di luar sana yang pernah menaruh harap, terluka diam-diam, tersakiti tanpa diketahui oleh yang menyakiti karena tertutup selimut perasaan. Hanya waktu yang selalu baik hati mengobati luka, menumbuhkan harapan baru.
 
 -Abdurahman El-Farizy-




0 Response to "Dalam sebuah pesta pernikahan, selalu saja ada yang terluka diam-diam"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme