Belajar Ikhlas Dari peristiwa koin penyok



Seorang laki-laki hendak pergi mencari pekerjaan karena sudah lama ia menganggur. Di tengah perjalanan, laki-laki tersebut menemukan sebuah koin kuno yang keadaanya tak lagi bulat sempurna, penyok dan lusuh sekali, namun sepertinya koin itu adalah mata uang peninggalan zaman dahulu yang bisa diperkirakan terbuat dari logam mulia. 

Ah mungkin dengan menukarkan koin ini ke bank, aku akan mendapatkan uang” gumam laki-laki itu dalam hati. Sesampainya di bank, teller bank mengatakan, “maaf pak kami tidak bisa menerima koin kuno ini. Bagaimana kalau koin ini ditukarkan saja ke kolektor barang-barang kuno, mungkin koin ini bisa dihargai mahal”. Laki-laki tersebut menerima saran teller bank tadi dan bergegas menukarkannya ke kolektor barang-barang antik. Ternyata koin penyok itu dihargai 20 U$ Dollar oleh sang kolektor.

Setelah mendapat uang 20 U$ dollar, laki-laki itu bergegas pulang untuk menemui istrinya dan berbagi kebahagiaan dengan uang yang didapatnya, namun ditengah perjalanan pulang, ia melihat kayu di sebuah toko kosen, ia terpikat melihat keindahan kayu itu dan berhasrat untuk membelinya. Kebetulan harganya 20 U$ dollar,
jumlah yang sama dengan uang yang baru saja didapatnya dari kolektor barang antik. Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki tersebut menyerahkan seluruh uangnya untuk ditukar dengan kayu kosen. Dengan kayu yang baru saja dibelinya, ia berniat  membuat  sebuah lemari. ia teringat perkataan istrinya yang minta dibelikan lemari baru karena lemari di rumahnya sudah rusak. “aku rasa aku tak perlu membelikan lemari baru untuk istriku, cukup dengan kayu ini saja, aku akan buatkan lemari yang indah untuknya”, ungkap laki-laki itu.

Kembali laki-laki itu melanjutkan perjalanan,  di perjalanan ia bertemu dengan seorang pembuat lemari. Pembuat lemari itu melihatnya sedang membawa kayu yang indah.  Kemudian ia berkata, “tunggu sebentar pak, belum pernah saya melihat kayu seindah ini. Jika saya membuat lemari dengan kayu ini, pasti lemari yang dihasilkan pun sangat indah. Bolehkah saya membelinya seharga 200 U$ dollar?”
“aku juga ingin membuat sebuah lemari dengan kayu ini, karena lemari di rumahku sudah rusak. Aku tidak akan menjualnya”. Jawab laki-laki itu.
“oh jadi begitu, bagaimana kalau kayu yang kau bawa ditukar dengan lemari buatanku?", ucap si pembuat lemari sambil menunjuk ke sebuah lemari yang ada di belakangnya.
Laki-laki itu pun mengangguk setuju, dengan begitu ia tak perlu repot-repot membuat lemari dari kayu tadi. 

Kembali ia melanjutkan perjalanan menuju rumahnya sambil memanggul lemari yang baru didapatnya, namun saat ia melewati sebuah rumah mewah seseorang menghentikannya, “pak..pak.. tunggu sebentar pak, saya sangat tertarik dengan lemari yang anda bawa. Saat ini saya sedang melakukan desain interior untuk rumah baru saya. Dan saya rasa lemari ini sangat tepat untuk melengkapi desain interior rumah saya, bagaimana kalau lemari ini saya beli seharga 2000 U$ dollar?”
“a..a..pa? du..du.. dua ribu U$?. baiklah kalau begitu saya bersedia menjual lemari ini seharga 2000 U$ dollar”. Laki-laki itu terkejut bukan kepalang, ternyata orang itu berani membeli lemarinya seharga 2000 U$ dollar.

Setelah menggenggam uang senilai 2000 U$ dollar laki-laki itu bergegas  pulang. Ia ingin menceritakan pengalaman uniknya ini kepada istrinya, ia akan bercerita mulai dari menemukan sebuah koin penyok hingga mendapat uang senilai 2000 U$ dollar. Namun malang tak dapat ditolak, tak jauh dari rumahnya ia dihadang kawanan perampok. Terjadilah pergulatan antara ia dan Kawanan perampok itu. Alhasil, kawanan perampok  itu sukses menggondol uang senilai 2000 U$ dollar, hasil dari jual lemari yang  baru saja didapatnya. Dari jarak beberapa ratus meter,  Rupanya kejadian ini dilihat oleh istri si laki-laki tersebut. kemudian sang istri bertanya, “tadi aku melihat abang dihadang oleh beberapa orang dan sepertinya orang itu merebut sesuatu darimu bang. Memangnya apa yang di rebut orang-orang tadi darimu?”
“ooh itu, mereka tidak merebut apa-apa dariku, mereka hanya mengambil sebuah koin penyok di sakuku”, jawab sang suami dengan santai…
 "hah... koin penyok?? for what?".
###

Hikmah : suatu karunia dari Allah terkadang datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka, lewat skenario yang telah diatur-Nya, bisa  saja Allah memberikan karunia-Nya dengan cara yang unik. Namun yang terpenting adalah bagaimana cara kita mensyukurinya dan bagaimana cara kita mengikhlaskannya ketika karunia itu direnggut kembali oleh pemilik-Nya. Kita bisa belajar dari  laki-laki tadi yang ikhlas menerima cobaan yang menimpanya dengan mengatakan uang senilai 2000 U$ dollar sebagai koin penyok.

Ah, kisah tadi mengajarkan kita untuk senantiasa ikhlas dalam menerima karunia maupun cobaan. Dan Memang benar praktik Ikhlas tak semudah teorinya, akan tetapi jika kita sudah mengetahui kuncinya barangkali mempraktikkan keikhlasan tak sesulit yang dibayangkan. Apa itu? KUNCI IKHLAS ADALAH KETIKA KITA MENDAPAT SESUATU, KITA MERASA DITITIPI BUKAN MEMILIKI.

0 Response to "Belajar Ikhlas Dari peristiwa koin penyok"

Posting Komentar

| Blogger Template by BloggerTheme powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme